MOSKOW – Rusia kembali melancarkan serangan udara besar-besaran ke Ukraina pada Jumat (13/12/2024). Serangan tersebut diduga dirancang Moskow untuk melumpuhkan infrastruktur listrik Ukraina.
Mengutip laporan Associated Press, Menteri Energi Ukraina menyatakan melalui media sosial bahwa serangan ini memberikan ancaman serius terhadap jaringan listrik negara tersebut. Ia menegaskan bahwa Rusia masih berupaya terus-menerus menghancurkan infrastruktur penting itu.
“Para pekerja energi melakukan segala upaya untuk mengurangi dampak negatif pada sistem kelistrikan. Kami akan memberikan informasi lebih rinci tentang kerusakan ketika situasi keamanan memungkinkan,” ujarnya.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan adanya serangan drone Rusia yang diikuti oleh tembakan rudal jelajah pada malam sebelumnya. Rusia juga disebut menggunakan rudal balistik Kinzhal untuk menyerang wilayah barat Ukraina.
Serangan ini menjadi bagian dari kampanye militer Moskow yang bertujuan melemahkan infrastruktur energi Ukraina, terutama menjelang musim dingin.
Moskow berdalih bahwa operasi ini ditujukan untuk melumpuhkan industri pertahanan Ukraina, termasuk produksi rudal, drone, kendaraan lapis baja, dan artileri. Namun, sejak invasi Februari 2022, Rusia terus-menerus menyerang jaringan listrik Ukraina, yang mengakibatkan terganggunya pasokan pemanas dan air bersih, terutama di musim dingin.
Pada 28 November lalu, serangan serupa dilaporkan melibatkan sekitar 200 rudal dan drone. Serangan tersebut membuat lebih dari satu juta rumah kehilangan akses listrik hingga tim darurat berhasil memulihkan pasokan.
Pejabat Ukraina memperingatkan bahwa Rusia tengah menimbun rudal balistik dan jelajah untuk serangan berikutnya. Pada 21 November, Moskow dilaporkan menggunakan rudal hipersonik jarak menengah Oreshnik untuk pertama kalinya, menyerang fasilitas industri di Dnipro, Ukraina Timur.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa serangan Oreshnik adalah respons atas serangan Ukraina di wilayah Rusia menggunakan senjata buatan Barat. Ia memperingatkan bahwa serangan dengan senjata canggih tersebut akan berlanjut.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa Ukraina menyerang pangkalan udara di Taganrog, Rostov Selatan, dengan enam rudal ATACMS yang dipasok Amerika Serikat. Serangan itu melukai sejumlah tentara, serta merusak fasilitas dan kendaraan. Kremlin berjanji akan memberikan balasan.
Pada 24 Februari 2024, Rusia melancarkan serangan besar-besaran di wilayah Donbass, Ukraina Timur. Moskow berdalih bahwa tindakan ini dilakukan untuk melindungi etnis Rusia dari diskriminasi pemerintah Kyiv dan mencegah Ukraina bergabung dengan NATO.
Konflik ini telah melibatkan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa, yang memberikan dukungan besar kepada Ukraina. Di sisi lain, ribuan sanksi ekonomi dijatuhkan kepada Rusia untuk melemahkan pendanaan perang mereka.
Meskipun mendapat perlawanan sengit, laporan terbaru menyebut bahwa Rusia terus menunjukkan kemajuan, meskipun perlahan, di medan perang Ukraina Timur. Moskow juga berupaya merebut kembali wilayah yang dikuasai Ukraina, termasuk Kursk. (*)
Sumber: CNBC Indonesia
