Menjelang Pemilu 2024, Perempuan Aceh Didorong Melek Politik

Daerah88 Dilihat

BANDA ACEH – Puluhan perempuan muda dari berbagai komunitas di Kota Banda Aceh mengikuti diskusi bertajuk “Mendalami Peran Perempuan dalam Menyambut Tahun Politik Indonesia” pada Minggu (3/12/2023) di Ivory Cafe Banda Aceh.

Kegiatan bernama One Day One Voice (ODOV) 2023 ini digelar oleh Anggota Forum Aktivis Perempuan Muda (FAMM) Indonesia Perwakilan Aceh yang berkolaborasi dengan Flower Aceh, PMII, LETO dan PKBI Aceh.

FAMM Indonesia mendukung kegiatan ini sebagai bagian dari rangkaian 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan (HAKtP), gerakan global untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak di seluruh dunia.

Febby, perwakilan dari FAMM Indonesia, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas perempuan muda untuk berpartisipasi dalam politik.

Ia menilai dalam konteks Aceh, perempuan masih menghadapi banyak tantangan, seperti angka kekerasan dan perceraian yang tinggi.

Ia juga menekankan pentingnya memilih pemimpin yang berpihak kepada perempuan dalam pemilu yang akan datang, karena pemimpin yang terpilih akan berdampak pada kebijakan dan kesejahteraan perempuan selama lima tahun ke depan.

“Kami ingin perempuan Aceh memiliki suara dan pengaruh dalam menentukan arah pembangunan di Aceh, khususnya dalam hal perlindungan dan pemenuhan hak-hak perempuan,” jelas Febby.

Zahrul Fadhi, Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa Panwaslih Kota Banda Aceh, mengajak perempuan Aceh untuk aktif mengawal dan mengawasi pemilu, agar berlangsung secara adil dan integritas. Pihaknya juga memastikan 30 persen kuota perempuan terpenuhi.

“Kami mengajak perempuan Aceh untuk aktif mengawal dan mengawasi pemilu, perempuan harus mendapatkan hak dan akses yang sama dengan laki-laki di bidang politik, tanpa adanya diskriminasi atau kecurangan,” jelasnya

Zahrul juga mengulas sejarah peran perempuan dalam politik di Aceh, yang telah menunjukkan kemandirian dan ketegasan sejak zaman dahulu seperti kisah Malahayati, Cut Nyak Dhien, dan Sultan Safiatuddin dalam memainkan peran strategis dalam politik.

Fatin, Perwakilan Flower Aceh yang juga anggota FAMM-I menilai ada beberapa hambatan yang dialami perempuan berpartisipasi dalam politik, baik dari faktor internal maupun eksternal.

Di antaranya faktor budaya patriarki, kurangnya dukungan keluarga, dan minimnya sumber daya juga menjadi tantangan bagi perempuan untuk berpolitik.

Lanjut Fatin, perempuan Aceh kini lebih banyak daripada laki-laki yang memiliki hak suara.

Ia mengajak perempuan Aceh untuk memanfaatkan hak suara mereka dengan bijak pada pemilu 2024 dan memilih pemimpin yang responsif dan progresif terhadap isu-isu perempuan.

“bijaklah dalam menentukan suara kita, kita harus menjadi agen perubahan yang positif untuk Aceh yang lebih baik,” tutup Fatin. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *