Dorong Lahirnya Pengusaha Muda Baru di Aceh, BSI Regional 1 Aceh Selenggarakan Muslimpreneur

Daerah, Ekonomi, headline50 Dilihat

BANDA ACEH – PT Bank Syariah Indonesia (BSI) mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha muda baru di Provinsi Aceh melalui program BSI Aceh Muslimpreneur. BSI Aceh Muslimpreneur ini merupakan program pembinaan, pendampingan dan penghargaan untuk wirausaha muda khusus di Provinsi Aceh.

BSI Aceh Muslimpreneur mengajak wirausaha muda di Aceh untuk mengimplementasikan ide dan konsep bisnisnya, melalui 3 kategori kompetisi, yaitu : Starter (ide bisnis), Scale-Up (lama usaha di bawah 2 tahun) & Sustainable (lama usaha di atas 2 tahun).

Tahapan BSI Aceh MuslimPreneur dimulai dengan Kick Off di Banda Aceh, diikuti dengan Scouting (sosialisasi dan seleksi administratif).

Sebanyak 2.234 orang mendaftar sebagai peserta, yang kemudian terkurasi menjadi 573 peserta. Tahapan selanjutnya adalah Incubation, yaitu pelatihan yang dilaksanakan secara daring. Dari 573 peserta tersebut dipilih 100 peserta terbaik yang melaju ke tahapan selanjutnya yaitu Mentoring.

Pada tahapan mentoring, peserta terpilih akan mengikuti pelatihan offline ekslusif yang dihadiri oleh mentor-mentor terbaik. Sebagai puncak acara BSI Aceh MuslimPreneur adalah Awarding, yang diberikan kepada 18 juara untuk 3 kategori.

RCEO BSI Aceh Wisnu Sunandar mengatakan, BSI Aceh Muslimpreneur merupakan program perekrutan, pelatihan, kolaborasi bisnis dan komunitas untuk melahirkan wirausaha baru yang saling berkompetisi, berkolaborasi untuk menjadi yang terbaik.

“Program BSI Aceh MuslimPreneur diharapkan dapat membangkitan potensi UMKM yang ada di Aceh,” kata Wisnu Sunandar dalam keterangan resminya kepada awak media Logis.id

Dengan hadirnya BSI Aceh Muslimprenuer diharapkan masa depan generasi wirausaha muda Aceh yang mandiri secara ekonomis terbuka lebar. Program ini telah membuktikan bahwa pengembangan kapasitas dan kewirausahaan dapat menciptakan dampak yang besar.

Para wirausaha muda Aceh memiliki kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakat mereka menjadi mata pencaharian yang menghasilkan, sambil tetap memegang teguh nilai-nilai Islam dan budaya lokal. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *