Perang Arab Kemana-mana, Negara Ini Ancam ‘Deklarasi Perang’ ke Israel

JAKARTA – Kemungkinan perang baru di wilayah Arab semakin meningkat, terutama dengan peringatan terbaru dari Yordania kepada Israel.

Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, menyatakan bahwa setiap upaya Israel untuk memindahkan warga Palestina ke wilayah Yordania akan dipandang sebagai “deklarasi perang”.

Hal ini disampaikannya dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, yang sedang melakukan kunjungan regional ke Yordania.

“Israel melancarkan kembali perang di Tepi Barat,” kata Safadi, seperti dilansir AFP pada Jumat (6/9/2024).

Safadi juga menuding pemerintahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai pemicu ketegangan yang semakin meningkat di seluruh kawasan. Ia menyebut tindakan Israel telah menghancurkan peluang untuk mencapai perdamaian yang adil.

Selain itu, Safadi menegaskan bahwa Yordania tengah mempersiapkan berkas hukum terkait tindakan Israel di tempat-tempat suci di Yerusalem, meski belum dijelaskan entitas mana yang akan menerima berkas tersebut.

Safadi juga mengkritik posisi Netanyahu yang dianggap menghalangi upaya gencatan senjata dengan Hamas di Gaza. Ia menuduh Netanyahu sengaja mengubah pendirian dan menarik diri dari komitmen yang sebelumnya dibuat.

“Tidak ada yang kami inginkan selain menghindari pengiriman pasukan kami ke medan konflik yang tak berkesudahan,” tegas Safadi.

Sementara itu, operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Israel di Tepi Barat utara sejak pekan lalu telah menyebabkan kematian 691 warga Palestina dan melukai lebih dari 5.700 lainnya.

Operasi ini terjadi bersamaan dengan putusan Mahkamah Internasional pada 19 Juli, yang menyatakan bahwa pendudukan Israel atas wilayah Palestina melanggar hukum dan menuntut penghentian aktivitas pemukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, yang berbatasan dengan Yordania.

Di Gaza, lebih dari 40.800 warga Palestina telah tewas sejak serangan Israel dimulai pada 7 Oktober, sementara Israel masih belum menghentikan operasi militernya meskipun tekanan internasional, termasuk dari PBB, terus meningkat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *