GAYA HIDUP – Gerakan “Boikot Korea” kini sedang viral di media sosial Thailand. Ini merujuk pada keputusan warga Thailand untuk menghindari perjalanan ke Korea Selatan (Korsel). Sebagai gantinya, banyak dari mereka memilih untuk berlibur ke Jepang atau China. Apa yang mendasari fenomena ini?
Isu ini bermula dari ketidakpuasan wisatawan Thailand setelah menghadapi kesulitan untuk memasuki Korsel. Mereka mengalami penolakan dari layanan imigrasi Korsel yang sangat ketat.
Masalah ini terkait dengan keberadaan pekerja ilegal Thailand di Korsel, yang memicu Seoul untuk memperkenalkan sistem perjalanan elektronik khusus. Akibatnya, jumlah wisatawan Thailand ke Korsel telah mengalami penurunan yang signifikan dalam setahun terakhir.
Menurut laporan Firstpost, yang juga dilaporkan oleh Nikkei dan Caixin Global, “Meskipun secara umum ada peningkatan jumlah pengunjung asing ke Korsel tahun ini, jumlah wisatawan Thailand mengalami penurunan drastis.”
“Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh penerapan sistem otorisasi perjalanan elektronik, K-ETA,” tambah laporan tersebut.
Data dari Organisasi Pariwisata Korea menunjukkan bahwa dalam empat bulan pertama tahun 2024, jumlah wisatawan Thailand turun 21% menjadi 119.000. Sebelum pandemi pada 2019, terdapat sekitar 572.000 wisatawan Thailand yang mengunjungi Korsel.
Pariwisata memegang peranan penting dalam perekonomian Korsel, menyumbang 4,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, angka ini masih jauh di bawah kontribusi sektor pariwisata di negara-negara Eropa seperti Inggris dan Jerman, yang masing-masing menyumbang 9,5% dan 8,8% dari PDB mereka. ***
Sumber: CNBC Indonesia
