BKKBN Aceh Dorong Integrasi Program dan Tambahan BAAS dalam Rembuk Stunting Subulussalam

Daerah, headline152 Dilihat

SUBULUSSALAM – Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Aceh dan Pemerintah Kota Subulussalam melakukan rapat Rembuk STUNTING dan pengukuhan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) serta Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS) di Aula Bappeda Kota Subulussalam, Jumat (23/6/2023).

Dalam acara tersebut, Plt Kepala Perwakilan BKKBN Aceh juga memberikan penghargaan kepada Kajari Kota Subulussalam sebagai motivator BAAS atas dukungan dan komitmen dalam penurunan angka Stunting.

Plt Kepala BKKBN Aceh, Husni Thamrin, SE,MM mengungkapkan bahwa upaya penurunan stunting telah dilaksanakan dengan berbagai Langkah-langkah sejak tahun 2018. Namun, langkah-langkah tersebut belum sepenuhnya terkoordinasi secara efektif dan masih belum terintegrasi dengan baik.

“Maka disini kita merembukkan langkah-langkah apa yang tepat untuk kemudian mengambil langkah-langkah kebijakan dan strategi yang harus kita laksanakan. Itu adalah tujuan rembuk stunting, dimana kita masih harus mengarahkan pada lima pilar intervensi,” ujarnya.

Dalam rembuk stunting, Husni Thamrin, menyampaikan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah mengarahkan upaya penanggulangan stunting pada lima pilar intervensi yang telah ditetapkan.

Pilar pertama adalah komitmen, yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pemerintah desa. Setiap tahun, komitmen ini perlu ditingkatkan agar dapat secara efektif menurunkan angka stunting. “Sehingga bagaimana komitmen kita setiap tahunnya yang kita tangani untuk benar-benar menurunkan angka stunting khususnya di kota Subulussalam ini,” ujarnya.

Pilar kedua adalah perubahan perilaku. Penting untuk mengajak masyarakat merubah perilaku agar dapat mencegah stunting. Stunting sebenarnya dapat dicegah dengan relatif mudah karena berkaitan dengan gizi buruk.

Dalam hal ini, diketahui bahwa stunting disebabkan oleh kekurangan gizi kronis yang menyebabkan anak lebih rentan terkena penyakit.

Ketiga, konvergensi program juga menjadi pilar penting dalam upaya penanggulangan stunting. Dalam hal ini, diharapkan semua program dapat bersatu, berintegrasi, dan saling memadukan anggaran untuk mencapai tujuan yang sama, yaitu menurunkan prevalensi stunting di Kota Subulussalam.

Survei Status Gizi Nasional menunjukkan bahwa pada tahun 2021, angka stunting di kota ini mencapai 41,8 persen, namun sayangnya angka ini mengalami peningkatan sebesar 6,1 persen menjadi 47,9 persen tahun 2022.

“Hal ini menjadi pembelajaran berharga untuk mengambil langkah-langkah yang lebih efektif dalam menurunkan angka stunting pada tahun 2023 ini,” harapnya.

Selanjutnya, pilar keempat adalah ketahanan pangan, yang menjadi hal yang perlu diperkuat dalam penanggulangan stunting. Peningkatan gizi juga menjadi fokus yang penting, serta pentingnya melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan.

Dengan melihat langkah-langkah yang telah diambil, dapat dievaluasi apakah langkah-langkah tersebut memiliki daya untuk menurunkan angka stunting.

Disamping itu, Husni Thamrin mengatakan, aksi Rembuk Stunting di Kota Subulussalam telah mencapai tahap ketiga dengan fokus pada perumusan langkah-langkah intervensi yang efektif.

Selanjutnya, upaya ini akan memasuki tahap keempat yang melibatkan pembuatan peraturan baru. Hasil rembuk stunting ini akan dijadikan komitmen bersama dan dilengkapi dengan regulasi yang akan disahkan oleh Walikota.

Regulasi ini akan memberikan landasan hukum dan kebijakan yang kuat untuk melaksanakan intervensi stunting dengan lebih terkoordinasi. Dengan adanya regulasi, semua pihak terlibat dapat berperan aktif dalam mengintervensi sasaran yang ditetapkan.

Sasarannya adalah keluarga berisiko yang memiliki anak remaja calon pengantin (Catin). BKKBN Aceh berharap bahwa persiapan perkawinan dilakukan dengan sungguh-sungguh, sehingga pihaknya mendukung penggunaan aplikasi Elsimil.

Aplikasi ini berfungsi sebagai panduan bagi calon pengantin untuk mempersiapkan diri sebelum menikah, termasuk mengedepankan kesehatan reproduksi. Namun, penting untuk dicatat bahwa aplikasi ini tidak bermaksud melarang seseorang menikah, tetapi lebih menekankan pentingnya memperhatikan kesehatan reproduksi dalam kehidupan berkeluarga.

Sasaran kedua dari rembuk stunting ini adalah ibu hamil. Memberikan gizi yang adekuat kepada ibu hamil merupakan langkah penting dalam mencegah stunting pada anak. Fokus pada kesehatan dan pemenuhan gizi selama 1000 hari kehidupan anak sangatlah krusial.

Dalam rembuk stunting ini juga ditekankan pentingnya menggabungkan protein hewani dan nabati dalam pemenuhan gizi yang seimbang. Paduan ini diharapkan dapat memberikan hasil maksimal dalam upaya pencegahan stunting pada anak.

Perlu Lebih Banyak BAAS

Plt. Kepala BKKBN Aceh juga mengharapkan adanya tambahan Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS)di Subulussalam. Dalam hal ini, perlu adanya peran lebih banyak bapak asuh stunting di Subulussalam.

Saat ini, tercatat hanya 42 orang yang terlibat sebagai bapak asuh stunting, sementara jumlah anak stunting di kota ini mencapai 746 orang.

Dengan keikhlasan dan kesadaran akan pentingnya membantu anak-anak yang mengalami stunting, pemerintah dan masyarakat berharap agar lebih banyak individu yang terlibat sebagai bapak asuh stunting.

Melalui tahap implementasi sasaran dan peningkatan peran bapak asuh, Subulussalam bertekad untuk mengatasi masalah stunting dengan sungguh-sungguh. Dengan dukungan komitmen dan regulasi yang baru, diharapkan upaya penanggulangan stunting akan semakin terarah dan efektif. Pemerintah dan masyarakat Subulussalam bersatu untuk menciptakan generasi yang berkualitas.

Sementara itu, Walikota Subulussalam H Affan Alfian Bintang, dalam arahannya menjelaskan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar yang ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan itulah yang di sebut Stunting.

Dijelaskan bahwa pada tahun 2022 yang lalu di kota Subulussalam terdapat kasus kematian ibu (sumber data aplikasi elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (E-PPGBM), pada Maret 2023 sejumlah 786 Balita mengalami Stunting 47,9%, yang artinya 100 dari 47 balita di kota ini mengalami Stunting, sementara (WHO) hanya mentolerir 20%.

Oleh karenanya melalui rapat koordinasi rembuk Stunting, pengukuhan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dan Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS) merupakan langkah maju Pemerintah Kota Subulussalam menuju “Zero Stunting”.

hal ini sejalan dengan VISI Pembangunan kota subulussalam yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) kota Subulussalam tahun 2019-2024 “Kota Subulussalam yang damai, mandiri, sejahtera dan islami”

Saya atas nama pemerintah kota Subulussalam berkomitmen dalam pemenuhan kebutuhan anak usia 0 sampai 5 tahun melalui program bapak asuh anak stunting dan pemberian makanan tambahan (pmt) olahan pangan lokal kaya protein hewani untuk baduta.

Terakhir walikota mengarahkan agar dibuatkan jadwal untuk terjun langsung ke rumah/keluarga sebagai bapak asuh anak Stunting BAAS.

Plt Dinas DP3AKB Kota Subulussalam Hermaini, MM dalam laporannya menyampaikan bahwa dasar kegiatan ini lPeraturan Presiden no 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan Stunting sebagaimana yang telah ditargetkan 14 persen pada tahun 2024, Peraturan Kepala

BKKBN nomor  12 tahun 2021, Keputusan Walikota Subulussalam nomor: 188.45/41/2023, Keputusan Walikota nomor : 188.45/85/2023 tentang (BAAS) tahun 2023 dan keputusan walikota nomor:188.45/77/2022     tentang lokasi fokus intervensi penurunan Stunting terintegrasi dalam wilayah kota Subulussalam tahun 2023.

Dengan membangun komunikasi dan koordinasi yang intens, acara ini dapat terselenggara dengan baik dengan jumlah peserta sebanyak 82 BAAS dalam lima wilayah Pemkot Subulussalam. (mel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *