JAKARTA – PT Pertamina Gas (Pertagas) menyatakan kesiapannya jika ditunjuk oleh pemerintah sebagai operator proyek Pipa Transmisi Gas Cirebon-Semarang (Cisem) Tahap 2 dengan nilai investasi mencapai Rp 2,7 triliun.
Direktur Teknik dan Operasi Pertagas, Indra P. Sembiring, menyampaikan bahwa perusahaan telah siap mengelola Pipa Cisem 2 karena terhubung dengan Pipa Cisem 1, di mana Pertagas saat ini sudah menjadi operatornya.
Pipa Cisem 2 yang membentang sejauh 245 km melalui jalur Batang-Cirebon-Kandang Haur Timur adalah kelanjutan dari Pipa Cisem 1 yang membentang sejauh 62 km pada jalur Semarang-Batang.
Proyek Cisem 1 telah beroperasi sejak tahun 2023. Sementara itu, Pipa Cisem 2 direncanakan akan dibangun dalam waktu 18 bulan setelah konstruksi dimulai pada 30 September 2024 dan diharapkan selesai pada Kuartal I 2026.
“Kami siap menjadi operator untuk mengelola dan merawat Pipa Cisem 2 setelah selesai, karena semua infrastruktur sudah kami miliki dari ujung Timur Jawa hingga Barat,” kata Indra kepada CNBC Indonesia dalam program Energy Corner pada Kamis (3/10/2024).
Indra juga menjelaskan bahwa Pertagas terlibat dalam perencanaan desain proyek Pipa Cisem 2, dengan tujuan mengintegrasikan dan menghubungkan infrastruktur gas di Pulau Jawa dari Timur ke Barat.
“Pertagas terlibat dalam desain proyek ini sejak awal, bekerja sama dengan tim dari Pak Laode (Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas ESDM). Desain tersebut penting agar infrastruktur gas di Jawa terintegrasi sebagai satu kesatuan,” jelasnya.
Selama tahap konstruksi, jalur pipa yang digunakan juga akan melibatkan beberapa ruas yang dikelola oleh Pertagas. Oleh karena itu, perusahaan akan turut serta dalam pembangunan Pipa Cisem 2 ini.
“Karena beberapa jalur yang digunakan dalam konstruksi adalah milik Pertagas, kami akan bekerja sama erat dengan tim dari Migas untuk mendukung penyelesaian proyek ini dalam jangka waktu 18 bulan yang diharapkan,” tambahnya.
Indra menegaskan bahwa Pertagas akan siap ditunjuk sebagai pengelola Pipa Cisem 2 setelah konstruksi selesai pada Kuartal I 2026.
Sebagai informasi, PT PGN Tbk, subholding gas Pertamina, adalah pembeli gas dari Pipa Cisem 1 sepanjang 62 km. Pertagas bertugas untuk menyalurkan gas tersebut ke pembeli akhir, termasuk Kawasan Industri Batang dan Kawasan Industri Kendal, serta jaringan distribusi gas untuk rumah tangga.
Sebagai operator Pipa Cisem 1, Pertagas mendapatkan pendapatan dari biaya angkut atau toll fee. Direktur Utama Pertagas, Gamal Imam Santoso, sebelumnya menyebutkan bahwa tarif toll fee untuk Pipa Cisem 1 adalah sebesar US$ 0,31 per seribu standar kaki kubik (MSF).
Pipa Cisem 1 mengalirkan gas dari Lapangan Jambaran Tiung Biru dan lapangan gas lainnya melalui Pipa Gresik-Semarang (Gresem). Tekanan dan distribusi gas tersebut diatur di Onshore Receiving Facility (ORF) Tambak Rejo, Semarang, sebelum disalurkan ke konsumen.
Pipa Cisem Tahap 1 melayani kebutuhan industri di Kawasan Industri Kendal (KIK) dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), serta kawasan industri lainnya di sepanjang jalur pipa.
Pembangunan Pipa Cisem Tahap 1 dibiayai oleh Kementerian ESDM melalui APBN sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN), dengan operasi dan pemeliharaan dikelola oleh Pertamina Gas dan Lemigas.
Proyek Pipa Cisem Tahap 2
Proyek Pipa Cisem Tahap 2 mencakup jalur sepanjang 245 km dari Batang ke Cirebon hingga Kandang Haur Timur. Proyek ini merupakan kelanjutan dari Tahap 1 yang telah beroperasi sejak 2023, dengan nilai investasi Rp 1,17 triliun untuk jalur Semarang-Batang.
Proyek ini adalah langkah strategis pemerintah dalam menghubungkan jaringan pipa transmisi gas di Sumatra, Jawa Bagian Barat, dan Jawa Bagian Timur, guna memperkuat suplai energi nasional dan mencapai kemandirian energi.
Konsorsium KSO PT Timas Suplindo – PT Pratiwi Putri Sulung telah dipilih untuk menggarap proyek ini dengan nilai kontrak mencapai Rp 2,7 triliun, mencakup semua aspek dari perencanaan hingga konstruksi. Proyek ini diharapkan selesai dalam 18 bulan setelah penandatanganan kontrak pada 2 Agustus 2024.
Konsultan Manajemen Konstruksi (MK), PT Amythas, akan bertanggung jawab untuk memastikan pelaksanaan proyek sesuai dengan standar. Sumber gas untuk proyek ini berasal dari Lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) dan potensi lainnya di wilayah Jawa Timur.
Manfaat dari proyek ini akan dirasakan oleh berbagai industri di Jawa Barat, jaringan gas rumah tangga, dan perusahaan pupuk seperti Pupuk Kujang. ***
Sumber: CNBC Indonesia
