JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sehari setelah mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah. Berdasarkan data dari Refinitiv pada Jumat (20/9/2024) pukul 9.58 WIB, IHSG terpantau turun 1,59% ke level 7.779,77.
Menanggapi penurunan ini, Cheril Tanuwijaya, Head of Research Mega Capital Sekuritas (Investasiku), menyebut bahwa IHSG berada dalam kondisi overbought.
“Sebelum kembali menguat, IHSG memang sudah overbought, sehingga kemungkinan mengalami koreksi terlebih dahulu sebelum melanjutkan penguatan,” jelas Cheril.
Namun, sejumlah analis tetap optimis bahwa IHSG akan menutup tahun 2024 di kisaran 8.000.
Target IHSG di Akhir Tahun
Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memprediksi IHSG dapat mencapai 7.915 pada akhir tahun, seiring dengan masuknya aliran dana asing ke Indonesia.
“Target kami ini berdasarkan riset Mirae Asset Indonesia, yang didukung oleh sentimen positif akibat arus modal masuk ke dalam negeri. Hal ini juga dipicu oleh harapan penurunan suku bunga dari Bank Indonesia,” kata Nafan.
Direktur Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, CSA, CRP, CIB, memproyeksikan IHSG akan mencapai 8.080 pada akhir tahun.
“Kami memprediksi dengan probabilitas 55% bahwa IHSG berpotensi berada di rentang 7.920 hingga 8.080,” ungkap Maximilianus kepada Tim Riset CNBC Indonesia, Jumat (20/9/2024).
Cheril Tanuwijaya dari Mega Capital Sekuritas juga memproyeksikan IHSG dapat mencapai 8.000 pada akhir tahun, dengan rotasi sektor dari bahan baku ke properti dan industri.
“Kami menargetkan IHSG bisa menguat ke 7.950-8.000 hingga akhir tahun, didorong oleh stabilnya sektor keuangan serta penguatan properti dan industrial,” jelasnya kepada Tim Riset CNBC Indonesia.
Ahmad Mikail Zaini, analis dari Sucor Sekuritas, memperkirakan IHSG bisa mencapai 8.100 di akhir tahun. Sementara itu, Andyka Pradana dari Jasa Utama Sekuritas memproyeksikan IHSG akan berada di 8.110.
Capital Asset Management memiliki tiga skenario untuk IHSG di akhir 2024. Pada skenario pesimis, IHSG bisa berada di 6.606. Dalam skenario netral, mereka menargetkan 7.742, sementara skenario optimis memprediksi IHSG mencapai 8.120.
BRI Danareksa Sekuritas juga menaikkan target IHSG menjadi 8.238 pada akhir tahun, dari prediksi sebelumnya 7.680. Dalam skenario optimis, mereka memperkirakan IHSG bisa mencapai 8.395, dan 8.080 dalam skenario pesimis.
Penurunan Suku Bunga Menandai Era Baru
Optimisme terhadap penguatan IHSG muncul setelah Bank Indonesia (BI) dan The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat menurunkan suku bunga, yang menandakan berakhirnya era suku bunga tinggi.
“Pergerakan IHSG dipengaruhi oleh kebijakan BI serta penurunan suku bunga oleh The Fed. Keputusan The Fed untuk menurunkan suku bunga sebesar 50 basis points (bps) sesuai dengan ekspektasi investor, mendorong aliran dana asing atau capital inflow ke aset berisiko seperti saham, yang mendukung IHSG menembus level psikologis 8.000,” ungkap Andyka Pradana.
Sebagai informasi, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada September 2024 memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan menjadi 6% dari sebelumnya 6,25%. Suku bunga Deposit Facility juga turun menjadi 5,25%, sementara suku bunga Lending Facility menjadi 6,75%.
Pemangkasan suku bunga ini merupakan yang pertama sejak Februari 2021. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga sebesar 275 bps antara Agustus 2022 hingga April 2024, sebelum menahannya selama beberapa bulan.
The Fed juga mengejutkan pasar dengan menurunkan suku bunga acuan sebesar 50 bps, lebih besar dari ekspektasi yang hanya 25 bps, menjadi 4,75-5,0% pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Ini merupakan pemangkasan suku bunga pertama sejak Maret 2020.
The Fed sebelumnya telah menaikkan suku bunga sebesar 525 bps dari Maret 2022 hingga Juli 2023, dan mempertahankannya di level 5,25-5,50% selama lebih dari setahun.
Sektor-sektor Potensial di Era Penurunan Suku Bunga
Sejumlah sektor diprediksi akan memimpin pergerakan IHSG di era pemangkasan suku bunga. Nafan Aji Gusta melihat potensi besar di sektor infrastruktur, keuangan, industri, transportasi, properti, teknologi, serta sektor siklikal dan non-siklikal.
Andyka Pradana dari Jasa Utama Sekuritas juga mengunggulkan sektor otomotif, teknologi, perbankan, properti, konstruksi, dan semen yang diprediksi akan menunjukkan kinerja positif.
