Strategi Indonesia Amankan Rupiah dari Ketergantungan Dolar AS

JAKARTA – Bank Indonesia telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Dua langkah jangka panjang yang akan diambil adalah pembentukan lembaga kliring sentral untuk transaksi derivatif suku bunga dan nilai tukar, yang dikenal dengan nama Central Counterparty untuk Transaksi Derivatif Suku Bunga dan Nilai Tukar (CCP SBNT).

Selain itu, BI berencana melakukan dedolarisasi melalui Local Currency Transaction (LCT). “Ini adalah upaya jangka menengah panjang BI, ditambah dengan intervensi serta penggunaan BI Rate sebagai kebijakan ketika diperlukan,” ujar Dewan Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, dalam rapat dengan Komisi XI DPR RI pada Senin, 24 Juni 2024.

Destry yakin bahwa keberadaan CCP akan memperdalam pasar keuangan di Indonesia, dengan instrumen yang diperdagangkan termasuk repo, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan instrumen lindung nilai lainnya.

“Kami merencanakan CCP akan mulai diterapkan pada semester II 2024,” ujarnya.

Destry juga menyebut bahwa kebijakan LCT mengalami perkembangan signifikan. Jumlah transaksi LCT terus meningkat, dengan kenaikan sebesar 39% year on year hingga Mei ini, mencapai US$ 3,8 miliar.

Jumlah pelaku LCT bertambah dari 2.602 nasabah pada Mei 2023 menjadi 4.386 nasabah pada Mei 2024. Saat ini, ada empat negara yang aktif menggunakan LCT dalam perdagangan dengan Indonesia, yaitu Malaysia, Thailand, Jepang, dan Tiongkok.

Indonesia juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan Korea Selatan, Singapura, dan Uni Emirat Arab terkait LCT.

“Kami akan terus meningkatkan penggunaan LCT, dengan mempertimbangkan karakteristik hubungan ekonomi kita dengan mitra serta kesiapan bank sentral masing-masing negara,” kata Destry. (*)

 

Sumber: CNBC Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *