Belajar dari Aceh, Menimba Ilmu di Rusia: Jejak Akademik Adzannie di Dunia Mikrobiologi

BANDA ACEH – Ada perjalanan yang dimulai dari ruang kuliah sederhana, tetapi membawa seseorang jauh melampaui batas negeri. Itulah perjalanan Mohammad Adzannie Bessania Raviq, alumnus Biologi Universitas Syiah Kuala (USK) yang kemudian melanjutkan pendidikan Mikrobiologi ke Rusia.

Dari Banda Aceh, ia menuju Kazan Federal University (KFU), hingga kini melanjutkan pendidikan doktoral di Saint Petersburg State University Rusia. Kisah tersebut kembali dibagikannya ketika hadir sebagai narasumber dalam PAKARMARU Biologi FMIPA USK Tahun 2026 dengan tema “Tropical Ocean Adventure: Discover the Wonders of Life.”

Dalam kesempatan itu, Adzannie menerima sertifikat penghargaan dari Departemen Biologi FMIPA USK. Perjalanan di Rusia tidak dimulai dengan mudah. Sebelum masuk program magister, Adzannie harus mempelajari bahasa Rusia dari nol melalui podfak di KFU.

Selama hampir setahun, ia belajar bahasa Rusia sekaligus Biologi, Kimia, Fisika, Fonetik Praktis, dan Gaya Bahasa Ilmiah. Totalnya mencapai 2.376 jam pelajaran. Setelah itu, tantangan berikutnya menunggu. Adzannie menjadi satu-satunya mahasiswa asing di program Molecular and Applied Microbiology.

Kuliah, praktikum, diskusi, hingga ujian semuanya berlangsung dalam bahasa Rusia. Namun, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Pada Mei 2024, ia bahkan tampil dalam konferensi internasional mahasiswa asing KFU dan mempresentasikan kekayaan biodiversitas Aceh, khususnya Ekosistem Leuser.

Presentasinya kemudian terpilih sebagai juara favorit kategori ilmu sains murni. Menariknya, semakin jauh Adzannie belajar dari Aceh, semakin kuat pula perhatiannya kepada tanah kelahirannya.

Dunia mikrobiologi yang ditekuninya memiliki hubungan erat dengan potensi biodiversitas Aceh. Sejak menjadi mahasiswa USK, ia telah meneliti aktinobakteri, bakteri termofilik dari sumber air panas Ie Seum, serta bakteri asam laktat.

Di KFU, ia mengembangkan penelitian tesis mengenai imobilisasi bakteri asam laktat (Lactobacillus) menggunakan mineral zeolit. Penelitian tersebut dipertahankan dalam sidang tesis pada 15 Juni 2026.

Salah satu tugas akademiknya bahkan membuat Adzannie membayangkan sebuah laboratorium mikrobiologi yang dapat dibangun untuk Aceh.

Ia merancang Microbial Biosystematic Laboratory dengan standar Biosafety Level 2 untuk mendukung penelitian bakteri, fungi, aktinobakteri, dan mikroalga. Gagasan tersebut lahir dari kesadaran bahwa kekayaan hayati Aceh tidak hanya berada di hutan dan permukaan tanah, tetapi juga tersembunyi di tanah, sedimen, sumber air, dan sistem akar.

Perjalanan akademik Adzannie kemudian semakin luas. Ia mengikuti Summer University KFU, simposium bioteknologi di Moskow, serta Winter School bidang biologi kelautan di Rusia. Tetapi perjalanan itu tidak membuatnya lupa dari mana semuanya bermula.

Kembali ke USK sebagai narasumber menjadi kesempatan untuk berbagi kepada mahasiswa baru. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para dosen yang pernah membimbingnya, khususnya Prof. Lenni Fitri, S.Si., M.P. dan Prof. Syaukani.

Ada pesan penting dari perjalanan tersebut: belajar ke luar negeri bukan berarti menjauh dari daerah asal. Justru, semakin luas seseorang belajar, semakin besar peluang untuk melihat potensi daerahnya dengan perspektif baru.

Aceh memiliki biodiversitas yang luar biasa. Dari Ekosistem Leuser hingga mikroorganisme yang belum banyak diteliti, masih begitu banyak pengetahuan yang menunggu untuk ditemukan.

Karena itu, perjalanan dari USK ke Rusia bagi Adzannie bukan sekadar perjalanan memperoleh gelar. Ini adalah perjalanan mengumpulkan ilmu, pengalaman, jejaring, dan keberanian, untuk suatu hari dapat kembali membawa manfaat bagi Aceh. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *