JAKARTA – Banyak mata uang dunia mengalami tekanan akibat terus menguatnya indeks dolar AS (DXY). Fenomena ini menyebabkan sejumlah mata uang semakin melemah di hadapan dolar AS.
Namun, mata uang apa saja yang kini berada di posisi terlemah, dan dari negara mana saja asalnya? Secara umum, mata uang yang dianggap lemah adalah mata uang yang memiliki nilai tukar rendah atau mengalami penurunan nilai terhadap mata uang lain.
Beberapa faktor yang memengaruhi depresiasi ini antara lain kebijakan bank sentral, peningkatan impor, penurunan ekspor, inflasi yang tinggi, hingga ketidakstabilan politik.
Berikut adalah daftar 10 mata uang terlemah di dunia menurut data dari Wise.com dan Refinitiv.
1. Lebanese Pound (LBP)
Pound Lebanon menjadi mata uang terlemah di dunia, terutama akibat inflasi tinggi, kondisi ekonomi yang tertekan, serta ketidakstabilan politik. Negara ini juga menghadapi krisis perbankan yang berkepanjangan sejak 2019.
2. Iranian Rial (IRR)
Rial Iran terpuruk sejak kegagalan kesepakatan nuklir AS-Iran pada 2015, yang diikuti dengan penerapan sanksi berat. Nilainya sempat stabil, tetapi belakangan kembali tertekan akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
3. Vietnamese Dong (VND)
Dong Vietnam berada di posisi ketiga mata uang terlemah di dunia. Penurunan ini disebabkan oleh pembatasan ekspor asing dan berkurangnya volume perdagangan. Bank Sentral Vietnam bahkan sempat mendekati kebijakan devaluasi untuk mendorong daya saing ekspor.
4. Laotian Kip (LAK)
Kip Laos terus melemah akibat inflasi yang tinggi, lambatnya pertumbuhan ekonomi, dan meningkatnya utang luar negeri, menjadikannya salah satu mata uang terlemah di kawasan Asia Tenggara.
5. Sierra Leonean Leone (SLL)
Leone Sierra Leone menghadapi tantangan serupa dengan kip Laos. Inflasi tinggi, utang besar, dan dampak krisis kesehatan seperti wabah Ebola memperburuk nilai mata uang ini.
6. Indonesian Rupiah (IDR)
Rupiah mengalami depresiasi signifikan sebesar 3,09% secara year to date (ytd). Faktor seperti perlambatan ekonomi pada kuartal II dan III tahun 2024 serta lonjakan kasus PHK berdampak pada kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
7. Uzbekistan Som (UZS)
Som Uzbekistan terus tertekan oleh tingginya tingkat pengangguran, inflasi yang tak terkendali, lambatnya pertumbuhan ekonomi, dan maraknya korupsi.
8. Guinean Franc (GNF)
Franc Guinea mulai melemah sejak konflik di tahun 1990-an. Meskipun ada tanda-tanda pemulihan, mata uang ini tetap tertekan akibat kerusuhan militer dan inflasi yang tinggi.
9. Paraguayan Guarani (PYG)
Guarani Paraguay termasuk dalam daftar ini karena masalah inflasi, pengangguran, serta tantangan ekonomi lainnya seperti peredaran uang palsu dan korupsi.
10. Malagasy Ariary (MGA)
Ariary Madagaskar mengalami pelemahan nilai signifikan sejak tahun 2009 akibat bencana alam, ketidakstabilan politik, serta dampak krisis keuangan global. Inflasi tinggi dan minimnya minat investor asing turut memperparah kondisi mata uang ini.
Meski beberapa mata uang di atas menunjukkan tanda pemulihan, sebagian besar masih menghadapi tantangan besar di tengah dinamika ekonomi global yang tak menentu. ***
Sumber: CNBC Indonesia
