Oleh: Dr. Febyolla Presilawati, SE., MM. Dosen Tetap Magister Manajemen dan Kepala Lembaga Kantor Urusan International (KUI) Kerjasama Universitas Muhammadiyah Aceh
Di banyak sudut kota, terutama di depan bank atau pusat perbelanjaan, sosok tukang parkir bukanlah pemandangan asing. Mereka mengatur kendaraan, meniup peluit, dan sesekali menyapa pelanggan dengan ramah.
Namun, ada kisah menarik yang jarang terdengar—bahkan tak tercatat dalam prosedur resmi bank—yakni peran mereka yang kadang “naik pangkat” menjadi asisten tidak resmi bagi nasabah ATM.
Tanpa seragam pegawai bank, tanpa meja layanan, mereka sering menjadi penolong bagi masyarakat yang kurang terbiasa menggunakan mesin ATM.
Mulai dari membantu memilih menu penarikan tunai, hingga memandu langkah demi langkah, mereka hadir sebagai jembatan antara teknologi perbankan dan nasabah yang masih ragu-ragu menggunakannya.
Mengapa Fenomena Ini Muncul?
Ada beberapa alasan mengapa fenomena “tukang parkir rasa customer service” ini muncul dan bertahan hingga sekarang:
1. Kesenjangan Literasi Digital
Meskipun layanan perbankan digital semakin marak, tidak semua kalangan familiar dengan teknologi tersebut.
Data dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK (2022) menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan Indonesia berada di angka 49,68%, sedangkan literasi digital, terutama di kalangan usia lanjut, masih jauh dari optimal.
Bagi mereka, mesin ATM seringkali menjadi “mesin misterius” dengan menu dan instruksi yang membingungkan.
2. Kebutuhan Bantuan Langsung di Lokasi
Tidak semua orang merasa nyaman bertanya langsung kepada petugas bank atau satpam.
Dalam banyak kasus, petugas resmi tidak selalu berada di dekat mesin ATM, apalagi jika ATM tersebut berada di luar jam operasional bank.
Tukang parkir yang selalu ada di lokasi menjadi pilihan alami untuk dimintai bantuan.
3. Kedekatan dan Kepercayaan Sosial
Interaksi harian antara tukang parkir dan pengguna ATM membangun rasa saling percaya.
Warga sekitar sudah mengenal wajah mereka, bahkan mungkin tahu nama dan latar belakang keluarganya.
Kepercayaan inilah yang membuat orang merasa lebih aman saat dibantu.
4. Peluang Ekonomi Tambahan
Bagi tukang parkir, membantu pengguna ATM sering berujung pada pemberian tip atau imbalan kecil.
Meski jumlahnya tidak besar, akumulasi dari bantuan seperti ini menjadi tambahan pemasukan yang berarti.
Potret di Lapangan: Kisah Bang Hasan
Di Banda Aceh, di depan sebuah minimarket yang berdampingan dengan bilik ATM, ada Bang Hasan—pria berusia 45 tahun, berkulit legam, bertubuh agak kurus, selalu mengenakan topi lusuh yang menjadi ciri khasnya.
Sejak pukul tujuh pagi, ia sudah berada di posnya: kursi plastik hijau di bawah pohon ketapang, peluit tergantung di leher.
Yang membuatnya dikenal bukan sekadar kepiawaian mengatur parkir, tetapi kemampuannya membuat orang yang gugup di depan mesin ATM merasa tenang.
Ia tahu kapan harus mendekat, kapan harus menjaga jarak, dan kapan harus memberi saran sederhana seperti, “Itu pilih yang tulisan penarikan tunai, Bang.”
Suatu pagi, seorang ibu paruh baya datang dengan wajah cemas. Tangan kirinya memegang kartu ATM, tangan kanan menggenggam secarik kertas berisi angka PIN yang ditulis oleh anaknya.
Melihat kebingungan itu, Bang Hasan mendekat dengan senyum ramah. Ia tidak pernah menyentuh kartu atau tombol mesin, hanya memberi arahan lisan dari samping.
Dalam waktu kurang dari tiga menit, uang keluar, dan si ibu mengucapkan terima kasih sambil menyerahkan recehan Rp5.000 sebagai tip.
Bang Hasan mengaku pengetahuannya soal ATM bukan dari pelatihan resmi. Ia belajar dari kebiasaan mengamati ratusan orang bertransaksi setiap bulan.
“Kalau suara mesinnya pelan tapi agak seret, itu biasanya kertas struknya mau habis,” ujarnya sambil tertawa.
Fenomena yang Meluas
Kisah seperti Bang Hasan bukan hanya ada di Banda Aceh. Di Medan, ada Bang Ucok yang sudah lebih dari sepuluh tahun membantu pengguna ATM di kawasan Pasar Petisah.
Di Yogyakarta, Mbak Siti—tukang parkir perempuan—menjadi penolong mahasiswa baru yang pertama kali mencetak buku tabungan di ATM setor tunai.
Bahkan di kota-kota kecil seperti Parepare dan Ternate, peran ini sering terlihat di ATM yang berdiri di area pasar.
Namun, tidak semua cerita berakhir manis. Di beberapa daerah, ada kasus di mana oknum tukang parkir justru memanfaatkan keluguan pengguna ATM untuk mencuri data atau uang.
Inilah yang membuat fenomena ini seperti “dua sisi mata uang”—ada manfaat besar, tetapi juga risiko yang tidak bisa diabaikan.
Analisis Sosial-Budaya
Fenomena ini mencerminkan dua hal:
1. Modal Sosial yang Kuat – Masyarakat Indonesia terkenal memiliki tingkat gotong-royong tinggi. Bantuan spontan di ruang publik adalah bagian dari budaya sehari-hari.
2. Transisi Teknologi yang Belum Merata – Adopsi teknologi finansial tidak seragam. Kota besar mungkin sudah akrab dengan mobile banking, tetapi di banyak daerah, mesin ATM masih menjadi titik utama interaksi masyarakat dengan sistem perbankan.
Di sinilah letak tantangan:
Bagaimana menggabungkan kekuatan modal sosial dengan sistem keamanan digital modern.
Manfaat yang Dirasakan
1.Bagi Nasabah: Mendapat rasa aman dan percaya diri saat bertransaksi.
2.Bagi Tukang Parkir: Peluang penghasilan tambahan dan pengakuan sosial.
3.Bagi Bank: Secara tidak langsung, nasabah yang terbantu merasa puas dan cenderung tetap menggunakan layanan tersebut.
Risiko yang Mengintai
1. Penyalahgunaan Kepercayaan – Potensi pencurian PIN, kartu, atau manipulasi transaksi.
2. Ketergantungan yang Berlebihan – Pengguna ATM tidak belajar mandiri karena selalu mengandalkan bantuan.
3. Tidak Ada Perlindungan Hukum – Tukang parkir yang benar-benar membantu pun tidak memiliki payung hukum jika terjadi masalah.
Peluang dan Langkah ke Depan
Beberapa langkah strategis yang dapat diambil:
-Pelatihan Dasar Keamanan Transaksi bagi tukang parkir yang sering berada di sekitar ATM.
-Edukasi Literasi Digital untuk masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti lansia.
-Desain ATM yang Ramah Pengguna, misalnya dengan panduan suara multi-bahasa dan tampilan visual sederhana.
-Kolaborasi Bank dan Pemerintah Daerah untuk melibatkan tukang parkir dalam program pemberdayaan ekonomi, misalnya menjadi ATM Assistant resmi dengan kartu identitas khusus.
Fenomena “tukang parkir rasa customer service” adalah potret unik interaksi sosial di era digital.
Ia memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu menghapus peran manusia di garis depan pelayanan, justru terkadang menuntut adanya figur yang mampu menjembatani kesenjangan antara mesin dan manusia.
Di balik seragam sederhana dan peluit yang nyaring, ada peran sosial yang berharga. Tantangannya kini adalah mengelola peran tersebut agar manfaatnya tetap besar, risikonya kecil, dan semua pihak—nasabah, tukang parkir, bank, dan pemerintah—dapat bergerak bersama dalam satu tujuan: keamanan, kenyamanan, dan keberdayaan masyarakat dalam bertransaksi. (*)
