LOGIS.ID – Budaya lokal merupakan Kebiasaan yang tumbuh dan berkembang dalam suatu komunitas wilayah/suku tertentu yang terus di lakukan baik secara individu maupun secara kelompok masyarakat.
Hal ini muncul karena adanya kesamaan konsep berfikir dalam kehidupan sosial, sehingga menjadi sebuah kebiasaan, yang menjadikannya tradisi yang melekat dan mengikat.
Kebudayaan tersebut kemudian dapat menjadi sebuah tatanan nilai sosial agama dan sosail ekonomi yang mengikat hubungan antara masyarakat dalam suatu wilayah/suku.
Kebiasaan yang terus dipraktekan menjadi suatu keunikan identitas suatau kelompok masyarakat, yang mampu mencirikan masyarakat itu hidup dan berpenghidupan.
Seperti budaya masyarakat Aceh ketika menghadapi bulan Ramadhan. Tradisi meugang, bubur kanji/rumbi, iftar bersama telah lama tertanam.
Tradisi meugang masih kental berlangsung, meski terjadi pergeseran dalam pelaksanaan namun menyiapkan bubur kanji nyaris hilang.
Dahulunya, menyiapkan bubur kanji di mushola merupakan budaya gotong royong masyarakat dengan dana urunan yang dikelola oleh masyarakat kampung.
Bahan-bahan bubur kanjipun diperoleh dari sumbangan masyarakat dari hasil kebun, buah kelapa dan berbagai rempah-rempah. Hasil kebun yang terkumpul dan urunan dana yang diolah untuk melengkapi bahan-bahan yang dibutuhkan dan dikelola oleh tetua kampung.
Pengolahan bubur dilakukan bakda dhuhur, tetua kampung ditemani anak muda meracik bubur hingga sholat ashar tiba. Bakda ashar masyarat berantrian mengambil bubur sebagai makanan berbuka.
Hal ini dilakukan oleh masyarat yang berpunya maupun yang papa. Sehingga tujuan puasa untuk menahan diri dan menahan selara dapat dilakukan bersama.
Budaya urunan dana ini kini berganti dengan kesedian perorangan mengantar panganan berbuka bagi pengurus mesjid. Praktek budaya praktis dengan memberikan takjil atau menggunakan jasa catering dirasa lebih efektif, sehingga kebersamaan yang dahulunya terjadi menjadi indifidualis.
Kebersamaan yang dahulunya kental kini menghilang, suasana berkumpul bersama di mushola kini berganti pada sekelompok pengurus masjid dan musafir papa yang melintas di pinggir jalan.
Bubur kanji yang dulunya menjadi panganan wajib kini hilang berganti kue-kue kekinian, risol, bakwan, kue lapis, dan beberapa kue tradisonal lainnya yang masih digemari.
Dibeberapa masjid/mushola bubur diganti nasi kotak/bungkus. Budaya praktis mengikis budaya kebersamaan, terkadang budaya memberi menjadi ajang pamer kemampuan ekonomi beberapa kelompok masyarakat dalam memberikan panganan berbuka puasa.
Positifnya panganan yang diberikan beragam namun kebersamaan masyarakat hilang bahkan ada yang enggan datang karena malu dan sungkan.
Bubur kanji yang dulunya dimasak berbahan kelapa muda dan rempah tinggal cerita berganti bubur rumbii yang dimasak oleh panitia masjid atau pihak katering. Tradisi menyiapkan kanji dahulunya menjadi ajang berkumpul tetua kampung berganti pengusaha catering/rumah makan/toko kue.
Dinamika perubahan budaya masyarakat saat ini sulit dipertahankan, kemajuan teknologi telah membuat masyarakat semakin indufidualis dan meterialis. Pengaruh informasi dan teknologi menggerus identitas masyarakat, sehingga tradisi yang dulunya dilakukan untuk mengikat kebersamaan menjadi vestifal budaya yang kerap dilombakan oleh masing-masing daerah.
Jika hal tersebut juga luput dari pengematan pemerintah, maka identitas suatu daerah dipastikan perlahan akan punah.
Vestifal budaya lokal kini menjadi tonton, positifnya masih bisa dilihat dan ditonton pada saat vestifal oleh masyarakat dan gerasai muda saat ini.
Jika vestifalpun tidak diminati maka ajang tersebutpun akan hilang maka tradisi tersebut akan menjadi cerita yang terekam dalam tulisan yang pernah menjadi identidas daerah yang menjadi bagian identitas sutu bangsa. (*)
Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni, Seorang ASN Pemkab Bireuen






