Sosok Hacker China Pencuri Rekening Triliunan Rupiah, Segini Hartanya

AMERIKA SERIKAT – Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) telah menangkap penjahat siber terkemuka, Yunhe Wan (35 tahun). Dia telah lama dicari karena mengoperasikan skema botnet terbesar dalam sejarah, menurut FBI.

Wan, seorang pria asal China, menjalankan aksinya melalui iklan pop-up pada layanan VPN. Iklan ini mendistribusikan malware yang telah menginfeksi miliaran komputer Windows di hampir 200 negara.

Wan menjual akses informasi komputer yang dicuri melalui jaringan yang dikenal sebagai ‘911 S5’ kepada penjahat siber lainnya. Jaringan ini digunakan untuk penipuan keuangan, pencurian identitas, dan eksploitasi anak-anak di internet, menurut Direktur FBI Christopher Wray.

Skema ini sangat berhasil. Menurut Departemen Kehakiman AS, Wan memperoleh keuntungan sebesar US$ 99 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun dari penjualan 911 S5 sejak 2014.

Wan menggunakan penghasilannya untuk membeli properti mewah, mobil, jam tangan, dan barang lainnya, sebagaimana dilaporkan oleh TheByte, Senin (3/6/2024).

“Skema ini menjual akses ke jutaan komputer yang terinfeksi malware di seluruh dunia, memungkinkan penjahat siber mencuri miliaran dolar, menyebar ancaman bom, dan memperdagangkan materi eksploitasi anak,” ujar Matthew Axelrod dari Kementerian Perdagangan AS dalam sebuah pernyataan.

Wan didakwa dengan tuduhan konspirasi untuk melakukan penipuan komputer, penipuan komputer substantif, konspirasi untuk penipuan online, dan konspirasi untuk pencucian uang. Ia menghadapi hukuman penjara hingga 65 tahun atas kejahatannya.

Menurut Departemen Kehakiman AS, Wan memiliki satu unit mobil Ferrari F8 Spider S-A keluaran 2022, satu unit BMW i8, satu unit BMW X5 M50d, Rolls Royce, dan banyak akun bank internasional serta domestik.

Wan juga memiliki 12 akun dompet mata uang kripto, beberapa jam tangan mewah, serta 21 properti yang terletak di Thailand, Singapura, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab.

Salah satu kejahatan yang dimungkinkan oleh 911 S5 adalah menyamar sebagai warga AS yang tidak bekerja selama pandemi Covid-19. Para penipu ini meraup hampir US$ 6 miliar (Rp 97 triliun) dari dana bantuan Covid-19 yang disalurkan oleh pemerintah AS.

Selain itu, 911 S5 juga digunakan untuk menguntit dan mencuri konten seksual yang melibatkan anak-anak. (*)

 

Sumber: CNBC Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *