RUSIA – Pemerintah Rusia berjanji akan merespons serangan Ukraina yang membakar gudang amunisi di wilayah perbatasan Rusia-Ukraina pada Minggu (7/7/2024). Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan kepada media bahwa Presiden Vladimir Putin akan mengambil tindakan dalam waktu dekat.
“Mereka, Amerika Serikat (AS) dan NATO, terus mengklaim bahwa mereka tidak berperang dengan Rusia. Ini bukanlah tindakan berani menghadapi situasi yang buruk, itulah yang akan saya katakan, dan mereka memahaminya dengan baik,” kata Lavrov, seperti dikutip dari TASS, Senin (8/7/2024).
Sebelumnya, drone Ukraina menyerang gudang yang diduga menyimpan amunisi di Voronezh. Gubernur Voronezh, Aleksandr Gusev, menjelaskan bahwa serangan tersebut terjadi di Distrik Podgorensky.
“Beberapa UAV terdeteksi dan dihancurkan oleh pasukan pertahanan udara di wilayah Voronezh tadi malam. Kebakaran terjadi di sebuah gudang karena jatuhnya puing-puing mereka. Peledakan bahan peledak dimulai di distrik Podgorensky,” kata Gusev.
Gusev tidak mengidentifikasi pemukiman di mana serangan itu terjadi, namun mengatakan keadaan darurat telah diumumkan di sana. Tidak ada yang terluka dalam serangan itu, namun dua wanita lanjut usia dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.
“Layanan operasional, militer dan pejabat sedang bekerja di lokasi untuk mengatasi keadaan darurat. Sejauh ini, sekitar 50 orang dari tiga pemukiman telah diangkut ke tempat penampungan sementara. Kami memberi mereka semua bantuan yang diperlukan,” tambahnya.
Sumber Ukraina yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa drone dari Dinas Keamanan Ukraina (SBU) menargetkan gudang tersebut karena digunakan untuk memasok amunisi kepada pasukan Rusia yang bertempur di Ukraina.
“Musuh menyimpan rudal permukaan-ke-permukaan dan permukaan-ke-udara, peluru untuk tank dan artileri, serta kotak amunisi untuk senjata api di area seluas 9.000 meter persegi,” kata sumber tersebut.
Konflik skala besar antara Ukraina dan Rusia dimulai pada 24 Februari 2022, dipicu oleh serangan Moskow untuk merebut wilayah Donbass dan Krimea sepenuhnya.
Selain alasan teritorial, Rusia mengatakan serangan ini bertujuan untuk mencegah Ukraina bergabung dengan NATO. Di sisi lain, Ukraina menyebut serangan ini tidak beralasan dan harus dihentikan.
Sejauh ini, Ukraina terus mendapatkan bantuan persenjataan dari anggota NATO. Rusia menganggap langkah ini justru memperburuk situasi dan tidak akan memberikan keunggulan bagi Kyiv. (*)
Sumber: CNBC Indonesia
