Peternak Ayam Terpuruk, Harga Jual Ayam Hidup Melambung Tinggi

JAKARTA – Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Pardjuni mengungkapkan kerugian yang dialami peternak.

Harga jual ayam hidup di kandang per kilogram (kg) saat ini berkisar antara Rp19.000 hingga Rp20.000, sementara biaya produksi mencapai Rp20.000 hingga Rp21.000 per kg. Hal ini menyebabkan peternak tidak mendapatkan keuntungan.

“Hari ini harga ayam hidup berkisar antara Rp19.000 hingga Rp20.000 per kg. Saya perhatikan, daya beli pedagang menurun, namun harga sarana produksi peternakan (sapronak) seperti DOC atau anak ayam, pakan, vaksin, vitamin, dan obat-obatan tetap tinggi,” kata Pardjuni kepada CNBC Indonesia, Kamis (7/4/2024).

Pardjuni menjelaskan bahwa meskipun harga jagung saat ini telah turun di bawah Rp5.000 per kg, harga pakan ternak yang dijual oleh produsen tetap tinggi dan tidak turun seiring dengan penurunan harga jagung.

“Harga pakan tidak mengalami penurunan. Harga jagung yang sebelumnya Rp9.000 per kg kini menjadi sekitar Rp5.000 per kg, namun harga pakan tetap tinggi. Margin keuntungan perusahaan pakan tetap tinggi,” ujarnya.

Harga bibit anak ayam atau DOC juga mengalami kenaikan hingga 60%. Sebelum Mei 2024, harga bibit anak ayam berkisar di Rp5.000, namun kini naik menjadi Rp8.000. Hal ini menambah beban biaya produksi peternak, sementara daya beli masyarakat menurun.

“Sebelum Mei, harga bibit (DOC) berkisar antara Rp5.000 hingga Rp5.500, namun kini naik hingga Rp8.000. Kenaikan ini sekitar 60% dari harga sebelumnya, yang menambah beban HPP (harga pokok produksi) bagi peternak mandiri,” ucapnya.

“Jika harga daging ayam ras di masyarakat sekitar Rp35.000 per kg dengan DOC di bawah Rp6.000, maka HPP bisa sekitar Rp33.000-Rp34.000 per kg, sehingga peternak masih untung. Namun, dengan HPP yang naik Rp2.000 untuk DOC dan harga pakan yang tetap tinggi, harga Rp36.000 per kg di masyarakat masih menyebabkan kerugian bagi peternak,” jelasnya.

“Harga ayam hidup dengan DOC di bawah Rp6.000 adalah Rp20.000, namun dengan DOC yang naik hingga Rp8.000, harga jual ayam hidup di kandang nasional masih berkisar Rp19.000-Rp20.000 per kg,” jelasnya.

Pardjuni menyebut bahwa keuntungan hanya dinikmati oleh produsen pakan dan bibit DOC, sementara peternak mandiri mengalami kerugian. Selain itu, deflasi 0,05% pada daging ayam ras terjadi selama Mei-Juni 2024 akibat penurunan daya beli masyarakat, sehingga harga jual turun meskipun biaya produksi tetap tinggi.

“Deflasi yang terjadi tidak menguntungkan masyarakat atau peternak. Deflasi ini terjadi karena daya beli masyarakat menurun, dan tidak meningkatkan daya beli mereka, hanya sekadar parameter angka,” pungkasnya.

Panel Harga Badan Pangan mencatat bahwa harga daging ayam pada Kamis (4/7/2024) turun Rp140 menjadi Rp36.190 per kg, dibandingkan dengan Rp36.330 per kg pada 27 Juni 2024. Harga ini adalah rata-rata harian nasional di tingkat eceran.

Harga daging ayam tertinggi tahun ini mencapai Rp38.450 per kg pada April 2024, melebihi harga tertinggi tahun 2023 sebesar Rp37.950 per kg yang terjadi pada Juni 2023. (*)

 

Sumber: CNBC Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *