ACEH BESAR – Sebanyak 63 peserta yang terdiri dari kepala madrasah, wakil kepala bagian kesiswaan, dan guru bimbingan konseling (BK) Madrasah Aliyah se-Kabupaten Aceh Besar berpartisipasi dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Waka Kesiswaan dan Bimbingan Konseling yang berlangsung selama dua hari, mulai Selasa hingga Rabu, 15-16 Oktober 2024, di Gedung Dekranas Aceh Besar.
Kegiatan yang diprakarsai oleh Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (K2MA) Kabupaten Aceh Besar ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi para guru dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital 5.0. Ketua K2MA, Arjuna, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya, menjelaskan bahwa peran guru bimbingan konseling dan wakil kepala sekolah bagian kesiswaan saat ini telah berkembang seiring dengan perubahan zaman.
“Guru BK tidak lagi hanya berfokus pada anak-anak yang bermasalah, tetapi juga bertanggung jawab memberikan bimbingan kepada siswa yang berprestasi. Dengan adanya perkembangan teknologi, tantangan yang dihadapi semakin kompleks, sehingga para guru harus terus memperbarui pengetahuannya,” kata Arjuna.
Ia juga menekankan pentingnya kegiatan pelatihan yang berkelanjutan, dan menyampaikan bahwa di masa mendatang, akan direncanakan bimtek serupa untuk bidang lainnya seperti kurikulum dan manajemen sekolah.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, H. Saifuddin, SE, dalam sambutannya mengapresiasi inisiatif penyelenggaraan Bimtek ini dan menyatakan bahwa kegiatan semacam ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di madrasah.
“Menuntut ilmu adalah pekerjaan yang berpahala besar. Guru-guru kita harus terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia pendidikan yang semakin terbuka dan dinamis. Perubahan teknologi dan informasi telah mengubah cara kita mengajar dan berinteraksi dengan siswa, sehingga sangat penting bagi para guru untuk mengikuti perkembangan tersebut,” ungkapnya.
Saifuddin juga menyoroti pentingnya melaksanakan pelatihan-pelatihan bagi guru secara rutin.
“Pelatihan seperti ini sebaiknya diadakan minimal dua kali dalam setahun agar para guru selalu siap menghadapi tantangan baru. Menjadi guru bukan hanya sekadar profesi, tetapi juga panggilan untuk membentuk generasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, Banyak guru saat ini yang mungkin memulai profesi ini karena alasan pekerjaan, namun kita harus kembali pada niat awal, bahwa menjadi guru adalah ladang pahala jariyah. Guru harus mampu menciptakan siswa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak baik dan siap menghadapi kehidupan di masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, H. Saifuddin juga memberikan apresiasi kepada Ketua K2MA yang telah berhasil menyelenggarakan kegiatan ini meskipun dengan keterbatasan anggaran.
“Kegiatan ini menunjukkan komitmen kita semua untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di madrasah. Saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti Bimtek ini dengan penuh keseriusan dan memanfaatkan kesempatan ini untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka,” ujar Saifuddin.
Bimtek ini menghadirkan pemateri-pemateri yang kompeten di bidangnya. Sesi pertama diisi oleh Muhajir Syarifuddin, Lc., MA., seorang pembina rohani dan karakter di BASARNAS Provinsi Aceh, sekaligus Pembina Yayasan Darul Lughah Arabiyah.
Dalam penyampaiannya, Muhajir menekankan pentingnya pembinaan karakter dan spiritual dalam mendidik generasi muda.
“Di era yang serba modern ini, pembinaan karakter harus menjadi prioritas utama dalam proses pendidikan. Guru bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus mampu menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual kepada siswa,” ujarnya.
Selain itu, kegiatan Bimtek ini juga mencakup sesi diskusi dan tanya jawab interaktif, di mana para peserta dapat berbagi pengalaman dan solusi dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para guru BK dan waka kesiswaan di Aceh Besar dapat meningkatkan kompetensi mereka dalam mendidik generasi penerus yang berprestasi dan berakhlak mulia.
Kegiatan Bimtek yang berlangsung selama dua hari ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat peran guru dalam membentuk karakter dan kemampuan siswa menghadapi era yang semakin kompleks dan penuh tantangan.[]
