Peningkatan TTG Pencetak Bata Interlock Menjadi Semi Automatik

Daerah358 Dilihat

BANDA ACEH – Tim Pengabdi Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Produk Teknologi Tepat Guna (PKMBP-TTG) di bawah pengelolaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) USK telah melaksanakan pelatihan pengoperasian alat pencetak bata interlock semi automatic kepada mitra industri kecil milik Amrizal Abdullah.

Alat pencetak bata interlock telah dilakukan inovasi agar dapat bekerja secara semi automatic sehingga dapat bekerja secara efektif dan efisien.

Industri ini telah menjadi mitra bagi tim pengabdi USK dalam pengembangan inovasi alat pencetak dan juga material pencampur bata interlock. Pada kegiatan ini melibatkan mahasiswa KKN Tematik dari Departeman Teknik Sipil USK.

Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman langsung di lapangan, tetapi juga memberikan dampak yang lebih signifikan dan berkelanjutan bagi industri tersebut.

Pencampuran material pembentuk bata interlock dilatih oleh tim pengabdi dan mahasiswa KKN Tematik kepada mitra industri kecil milik Amrizal Abdullah dan mitra lainnya yaitu Chaidir.

Menurut Ketua pengabdi yaitu Dr. Ir. Yulia Hayati., ST., M.Eng yang didampingi oleh anggota tim pengabdi yaitu Sabri ST., MT dan Junidar., S.Si., M. Kom, inovasi terhadap alat pencetak terus menerus dilakukan oleh tim peneliti dan pengabdi sehingga nantinya TTG ini dapat diproduksi masal dan digunakan oleh industri kecil lainnya di Kota Banda Aceh.

Material bata interlock ini belum popular digunakan oleh masyarakat, namun bata ini banyak keunggulannya seperti tidak perlu diplester karena permukaannya halus, dan tidak perlu di cat karena bentuk dan warnanya menarik. Metode pelaksanaannya sangat mudah dan dapat menghemat waktu dalam pelaksanannya.

Menurut Amrizal Abdullah dengan adanya kegiatan ini sangat membantu industri kecil seperti saya dalam mengembangkan usaha dengan jenis material dinding bata interlock.

“Alat ini sudah ditingkatkan oleh tim dosen USK menjadi semi automatic sehingga produksinya semakin cepat dan menghemat biaya operasional bila dibandingkan dengan secara manual,” ucapnya.

Tim pengabdi menghibahkan alat tersebut kepada industri milik Amrizzal Abdulah agar industri tersebut dapat memproduksi bata interlock sesuai dengan standar pencampuran material pembentuk bata interlock yang sudah diuji oleh tim pengabdi di Laboratorium Konstruksi dan Bahan Bangunan (LKBB) USK. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *