JAKARTA – Platform TikTok sedang menghadapi masalah baru. Laporan dari Institute for Strategic Dialogue (ISD) yang dilansir oleh Wired menemukan bahwa kelompok Neo-Nazi dan supremasi kulit putih kini ramai-ramai memanfaatkan TikTok untuk menyebarkan propaganda dan merekrut anggota baru.
Mereka menyebarkan konten yang berkaitan dengan Hitler dan bahkan mengajak pengikutnya untuk melakukan aksi di dunia nyata, menurut laporan Wired pada Selasa (30/7/2024).
Laporan ISD menyebutkan bahwa algoritma TikTok turut mempromosikan konten semacam ini kepada pengguna baru. Komunitas ekstremis ini mampu meraih popularitas di TikTok dan menjangkau audiens muda untuk menyebarkan pesan mereka.
Ratusan akun ekstremis di TikTok terang-terangan menyebarkan informasi keliru tentang Holocaust. Mereka juga memuliakan Hitler dan era Nazi Jerman.
Bahkan, mereka secara terbuka menyebut ideologi Nazi sebagai solusi untuk masalah era modern. Akun-akun tersebut juga mendukung tindakan kekerasan yang dilakukan atas nama supremasi kulit putih.
Nathan Doctor, seorang peneliti ISD, mengatakan bahwa pihaknya mulai melakukan investigasi terkait gerakan ekstremis di TikTok sejak awal tahun ini.
Mulanya, ia menemukan akun berbau Neo-Nazi di TikTok ketika sedang melakukan riset untuk proyek lain. Dari satu akun tersebut, ia dengan cepat menemukan banyak akun lain yang menyuarakan hal serupa.
Mereka berkolaborasi dengan saling mengomentari konten satu sama lain, membagikannya, dan menyebarkan like, sehingga membantu algoritma TikTok untuk menyebarluaskan konten tersebut ke audiens yang lebih banyak.
Kelompok pendukung Neo-Nazi ini umumnya berdiskusi soal hal-hal teknis dan strategi perekrutan anggota melalui Telegram. Mereka juga membagikan video, gambar, dan audio untuk digunakan para anggota dalam menciptakan konten yang akan dibagikan ke TikTok.
“Kami membagikan konten di akun TikTok baru dengan followers 0 tetapi bisa mendapatkan view lebih banyak dibandingkan platform semacam X,” kata salah satu akun di grup Neo-Nazi di Telegram yang membahas soal jangkauan di TikTok.
“Layanan itu [TikTok] menjangkau lebih banyak orang,” kata dia.
Salah satu akun Neo-Nazi populer di Telegram meminta para pengikutnya membagikan konten-kontennya untuk ‘boost’ algoritma TikTok hingga viral.
Salah satu channel Telegram dengan 12.000 pengikut mendorong para audiensnya untuk membagikan dokumenter ‘Europa: The Last Battle’ dengan konten bertema reaksi di TikTok agar film itu viral.
Peneliti ISD menemukan banyak video di TikTok yang menampilkan cuplikan film tersebut. Beberapa mendulang lebih dari 100.000 view.
“Salah satu akun bahkan mendapatkan hampir 900.000 view,” tertulis dalam laporan tersebut.
Ini bukan kali pertama algoritma TikTok terdeteksi mempromosikan konten-konten ekstremis. Pada awal bulan ini, Global Network on Extremism and Technology melaporkan bahwa algoritma TikTok mempromosikan ideologi fasis kepada generasi muda.
Peneliti yang sama pada tahun lalu menemukan bahwa algoritma TikTok mempopulerkan narasi supremasi Eropa-sentris kepada pengguna di kawasan Asia Tenggara.
Menanggapi hal ini, juru bicara TikTok Jamie Favazza mengatakan bahwa pihaknya tidak menolerir perilaku ekstremis di platform di bawah naungan ByteDance tersebut.
“Sikap kebencian, beserta organisasi dan ideologi mereka tidak memiliki tempat di TikTok. Kami sudah menghapus lebih dari 98% dari konten-konten semacam ini sebelum dilaporkan kepada kami,” kata dia.
Lebih lanjut, Favazza menegaskan bahwa TikTok bekerja sama dengan para pakar untuk selalu memperbarui tren dan memperkuat keamanan di platformnya dari ideologi dan kelompok ekstremis. ***
Sumber: CNBC Indonesia
