JAKARTA – Pada tanggal 17 Agustus 2019, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meluncurkan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS).
Perry mengenang momen tersebut dan mengungkapkan bahwa tanpa disadari, QRIS telah banyak membantu perekonomian Indonesia selama pandemi Covid-19.
Peluncuran QRIS adalah bagian dari peta jalan pengembangan sistem pembayaran Indonesia untuk periode 2019-2025. Sistem pembayaran ini diperkenalkan hanya sepuluh bulan sebelum pandemi melanda Indonesia.
“Masya Allah, 10 bulan sebelum pandemi Covid-19 meledak. Saat itu kita tidak tahu,” kata Perry dalam acara peluncuran Blueprint Sistem Pembayaran 2030 di Jakarta Convention Center, Jumat, 2 Agustus 2024.
Perry menuturkan bahwa penerapan QRIS ternyata membawa berkah bagi Indonesia, terutama selama pandemi. QRIS, sebagai salah satu bentuk elektronifikasi transaksi keuangan, mempermudah penyaluran bantuan sosial.
“Itu menyelamatkan Indonesia dari Covid-19. Dengan elektronifikasi, kita bisa menyalurkan bantuan sosial sehingga rakyat bisa hidup selama Covid,” ujar Perry.
Selain membantu selama pandemi, QRIS juga terbukti andal digunakan oleh masyarakat untuk berbagai transaksi. Perry menyebutkan bahwa kehadiran QRIS menjadikan Indonesia salah satu negara dengan kecepatan digitalisasi keuangan yang tinggi.
“Lima tahun yang luar biasa. BSPI (Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia) telah membuat digitalisasi Indonesia termasuk yang tercepat di dunia,” kata Perry.
Perry juga menekankan bahwa QRIS bukan satu-satunya sistem pembayaran elektronik yang berperan penting selama pandemi. BI Fast Payment dan Standar Nasional Open API Indonesia (SNAP) juga turut berkontribusi.
Perry menyatakan bahwa BI akan terus mengembangkan sistem transaksi elektronik ini ke depannya. Sistem pembayaran tersebut telah dikembangkan untuk bisa digunakan di negara-negara lain selain Indonesia.
“Kita sudah bekerja sama dengan Singapura, Malaysia, Thailand, dan ke depan dengan Korea Selatan,” kata Perry. ***
Sumber: CNBC Indonesia
