IRAK – Gerakan boikot terhadap produk-produk yang mendukung Israel semakin meluas. Berbagai lapisan masyarakat global memboikot dengan berbagai cara, salah satunya dengan menyerang toko-toko yang mendukung Israel.
Di Irak, sekelompok pria bertopeng melompat keluar dari dua SUV dan sebuah truk pikap putih, lalu menyerbu KFC di Baghdad. Mereka menghancurkan semua yang terlihat sebelum melarikan diri.
Rekaman kamera keamanan menunjukkan orang-orang bertopeng menyerbu restoran cepat saji itu, sementara para pekerja dan pelanggan melarikan diri melalui pintu belakang. Para penyerang kemudian memecahkan jendela dan layar LED, serta merusak kursi, meja, dan peralatan dapur.
Beberapa menit kemudian, pasukan keamanan tiba di lokasi dan melepaskan tembakan peringatan saat para penyerang melarikan diri.
Beberapa hari sebelumnya, insiden serupa terjadi di Lee’s Famous Recipe Chicken dan Chili House. Dalam insiden lainnya, sebuah bom suara dilemparkan ke luar toko perusahaan Caterpillar, mengguncang lingkungan sekitar dan meninggalkan lubang kecil di jalan.
Semua toko yang diserang merupakan merek Amerika yang populer di Baghdad.
Pekan lalu, para pengunjuk rasa membawa bendera Palestina dan Irak berbaris ke kantor PepsiCo di Baghdad, meneriakkan “Tidak untuk agen” dan “Tidak untuk Israel.” Protes serupa juga terjadi di luar kantor Procter & Gamble (P&G).
Dua pejabat dari milisi yang didukung Iran di Irak mengonfirmasi kepada The Associated Press bahwa para penyerang adalah pendukung mereka. Tujuan mereka adalah mempromosikan boikot merek Amerika dan menghalangi kehadiran mereka di negara tersebut.
Ini juga merupakan upaya untuk meningkatkan citra milisi, kata para pejabat yang berbicara dengan syarat anonim sesuai peraturan kelompok mereka.
Meskipun tidak ada yang terluka parah, serangan ini mencerminkan kemarahan yang meningkat terhadap Amerika Serikat, sekutu utama Israel, atas perang di Gaza.
Pemerintah Irak selama bertahun-tahun harus menyeimbangkan hubungan dengan Washington dan Teheran, tetapi perang delapan bulan di Gaza telah meningkatkan ketegangan secara kritis.
Konflik meletus setelah kelompok militan Hamas menyerbu Israel selatan pada 7 Oktober, menewaskan sekitar 1.200 orang – sebagian besar warga sipil – dan menyandera 250 orang. Serangan balasan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 36.000 warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan setempat.
Beberapa hari setelah perang dimulai, koalisi milisi yang didukung Iran yang dijuluki Perlawanan Islam di Irak melancarkan puluhan serangan terhadap pangkalan yang menampung pasukan AS di Irak dan Suriah timur.
Serangan tersebut berhenti pada Februari – tetapi hanya setelah serangkaian serangan balasan AS menyusul serangan pesawat nirawak di sebuah pangkalan di Yordania yang menewaskan tiga tentara Amerika.
Serangan terhadap bisnis dan merek terkait AS di Irak pada akhir Mei dan awal minggu ini mencerminkan perubahan taktik untuk memaksimalkan sentimen anti-AS terkait dukungan Washington terhadap Israel. (*)
Sumber: CNBC Indonesia






