Banyak Negara Serukan Warganya untuk Tinggalkan Lebanon, Termasuk Indonesia?

JAKARTA – Lebanon kini menghadapi situasi mirip dengan Gaza setelah serangan udara Israel menghantam wilayah tersebut. Serangan ini telah mengakibatkan ratusan warga Lebanon meninggal, terluka, dan ribuan lainnya terpaksa mengungsi untuk mencari tempat yang aman.

Situasi ini memicu sejumlah negara untuk mengeluarkan imbauan agar warga negaranya segera meninggalkan Lebanon dan Israel.

Berikut adalah negara-negara yang telah mengeluarkan seruan tersebut, sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber oleh CNBC Indonesia pada Rabu (25/9/2024):

China

Pemerintah China telah menyarankan warganya yang berada di Israel untuk segera meninggalkan negara tersebut, mengingat situasi yang kian memanas antara Israel dan kelompok militan Hizbullah di Lebanon.

“Kondisi saat ini di perbatasan Israel-Lebanon sangat tegang, dengan konflik militer yang terjadi secara berkala,” demikian pernyataan Kedutaan Besar China di Israel, dikutip dari Al Arabiya.

“Keamanan di Israel masih sangat tidak stabil, rumit, dan sulit diprediksi,” tambah pernyataan tersebut. Kedutaan pun mengimbau warga negara China di Israel untuk “segera pulang atau pindah ke daerah yang lebih aman.”

Sebelumnya, pada bulan lalu, China sudah meminta warganya yang berada di Lebanon untuk meninggalkan negara tersebut setelah serangan Israel yang menewaskan seorang militan senior Palestina.

Inggris

Pemerintah Inggris melalui Kementerian Luar Negeri telah meminta warganya untuk segera meninggalkan Lebanon dan menghindari perjalanan ke negara itu. Seruan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah.

Pemerintah Inggris juga mengumumkan pengerahan pasukan tambahan ke Siprus.

“Sekitar 700 pasukan Inggris akan dikerahkan ke Siprus dalam beberapa jam ke depan, sebagai langkah antisipasi terhadap eskalasi konflik antara Israel dan Lebanon dalam beberapa hari terakhir,” menurut pernyataan resmi yang dikutip dari Middle East Eye.

Kanada

Pemerintah Kanada mendesak warganya yang berada di Lebanon untuk segera meninggalkan negara tersebut selagi penerbangan komersial masih tersedia, menyusul meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah.

Ketika ditanya mengenai situasi keamanan dan imbauan perjalanan terbaru, Global Affairs Canada menyatakan bahwa saat ini pihaknya tidak menyediakan bantuan evakuasi untuk warga Kanada yang berada di Lebanon.

“Evakuasi yang difasilitasi pemerintah dari negara asing adalah langkah terakhir, ketika semua opsi transportasi pribadi dan komersial sudah tidak memungkinkan, dan jika keselamatan warganya terancam,” ujar Kevin Sweet, juru bicara Global Affairs Canada, sebagaimana dikutip oleh CTV News.

Menteri Luar Negeri Kanada Melanie Joly menyebutkan bahwa saat ini ada sekitar 45.000 warga Kanada di Lebanon.

Amerika Serikat

Departemen Luar Negeri AS baru-baru ini mengimbau warganya yang berada di Lebanon untuk segera meninggalkan negara itu selagi penerbangan komersial masih tersedia, akibat meningkatnya konflik antara Israel dan Hizbullah.

“Dengan sifat konflik yang tidak dapat diprediksi antara Hizbullah dan Israel, serta adanya ledakan baru-baru ini di seluruh Lebanon, termasuk Beirut, Kedutaan Besar AS menyarankan warga Amerika untuk segera meninggalkan Lebanon selagi masih ada opsi penerbangan komersial,” demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS yang dikutip dari Arab News.

“Saat ini, penerbangan komersial masih tersedia, namun dengan kapasitas yang terbatas. Jika situasi keamanan memburuk, opsi penerbangan bisa jadi tidak tersedia,” tambahnya.

Pada akhir Juli lalu, Amerika Serikat telah menaikkan tingkat peringatan perjalanan ke Lebanon ke level tertinggi “jangan bepergian,” setelah adanya serangan di Beirut yang menewaskan seorang komandan senior Hizbullah.

Indonesia

Kementerian Luar Negeri RI dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beirut mengimbau warga negara Indonesia (WNI) untuk menunda perjalanan ke Lebanon, Iran, Israel, dan Palestina.

“Bagi WNI yang berencana bepergian ke Lebanon, Iran, Israel, dan Palestina, diimbau untuk menunda perjalanan hingga situasi kembali aman,” kata Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri RI, Judha Nugraha, melalui pesan singkat yang diterima di Jakarta pada Selasa.

Judha menambahkan bahwa sejak Agustus 2024, KBRI Beirut telah menaikkan status menjadi Siaga 1 untuk seluruh wilayah Lebanon. Sebelumnya, status Siaga 1 hanya diberlakukan untuk wilayah Lebanon bagian selatan sejak Oktober 2023.

Sejak Agustus, KBRI Beirut juga telah mengimbau WNI yang berada di Lebanon untuk meninggalkan negara tersebut setelah insiden serangan rudal Israel yang menewaskan seorang pemimpin senior milisi Hizbullah di Beirut. ***

 

Sumber: CNBC Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *