JAKARTA – Sejumlah emiten saat ini sedang merencanakan aksi korporasi berupa pembelian kembali (buyback) saham. Sebagian besar dari emiten ini adalah konstituen indeks LQ45 yang terkenal dengan saham-saham bluechip.
Sebagai informasi, buyback saham adalah tindakan korporasi di mana perusahaan membeli kembali saham yang beredar di publik. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi jumlah kepemilikan saham publik sehingga likuiditas saham tersebut tetap terjaga. Buyback dilakukan dengan membeli saham perusahaan dari publik.
Ada beberapa tujuan buyback saham, antara lain untuk meningkatkan rasio keuangan, mempersiapkan cadangan modal, serta mengantisipasi penurunan harga saham.
Terdapat delapan emiten yang berencana melakukan buyback dengan total anggaran mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah.
Di antara delapan emiten tersebut, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) memiliki rencana anggaran buyback terbesar, yakni mencapai Rp 4 triliun. Periode buyback ADRO dimulai pada 16 Mei 2024, setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) menyetujuinya dan berlangsung selama 12 bulan ke depan.
Emiten teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga sedang melakukan buyback sejak 11 Juni lalu. GOTO telah melaksanakan aksi buyback sebesar Rp 3,82 miliar.
Jumlah ini bertambah dari bulan sebelumnya, di mana saham treasury GOTO mencapai 10,26 miliar saham. Saat ini, GOTO telah membeli 3,82 miliar unit saham tambahan.
Detail transaksi dan harga pembelian tidak diumumkan. Namun, jika harga saham GOTO saat ini sekitar Rp 50, perusahaan telah menghabiskan sekitar Rp 191,25 miliar.
Dengan asumsi tersebut, nilai buyback saham GOTO sudah mencapai sekitar 5,97% dari target yang disetujui pemegang saham, yaitu US$ 200 juta atau sekitar Rp 3,2 triliun.
Selain ADRO dan GOTO, ada enam emiten lain yang juga melakukan buyback saham. Berikut daftarnya.
Aksi buyback dapat menjadi katalis positif untuk meredam tekanan jual saat ini dan mengurangi volatilitas di pasar.
Namun, efek ini kemungkinan hanya sementara. Oleh karena itu, investor perlu memperhatikan perkembangan kondisi makro dan fundamental emiten yang melakukan buyback.
Pengembangan rasio keuangan sering menjadi alasan utama perusahaan melakukan buyback saham. Hal ini berkaitan dengan penurunan jumlah saham yang beredar, yang menyebabkan peningkatan rasio earning per share (EPS).
Hasil buyback saham dapat dijual kembali ketika harga naik dan dapat dijadikan saham treasury untuk dijual kembali saat tren harga saham sedang naik.
Aksi buyback juga bisa dilakukan saat harga saham perusahaan turun untuk menjaga psikologis investor. Jika saham sedang turun dan ada pihak yang membeli dalam jumlah besar, investor akan semakin tertarik untuk mengoleksi saham tersebut. ***
Sumber: CNBC Indonesia
