SRI LANKA – Anura Kumara Dissanayake, tokoh berhaluan marxisme, secara resmi dipilih oleh masyarakat Sri Lanka sebagai presiden baru. Publik tampaknya menaruh harapan pada janji Dissanayake untuk memberantas korupsi dan mendorong pemulihan ekonomi negara.
“Kami yakin mampu membawa perubahan bagi negara ini, membangun pemerintahan yang kuat, dan terus bergerak maju. Bagi saya, ini bukan hanya sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab,” ujar Dissanayake kepada awak media setelah kemenangannya dikonfirmasi usai penghitungan suara kedua, seperti dilaporkan oleh Reuters, Senin (23/9/2024).
Pria berusia 55 tahun ini berhasil mengungguli Presiden petahana, Ranil Wickremesinghe, serta pemimpin oposisi, Sajith Premadasa, dalam pemilihan tersebut.
Dissanayake memperoleh dukungan 5,6 juta suara atau sekitar 42,3%, yang menjadi peningkatan signifikan dibandingkan dengan hanya 3% suara yang ia dapatkan pada pemilihan presiden tahun 2019. Sementara itu, Premadasa berada di urutan kedua dengan perolehan 32,8%.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah negara kepulauan di Samudra Hindia ini, pemilihan presiden ditentukan melalui penghitungan suara kedua, setelah dua kandidat utama gagal mencapai 50% suara yang dibutuhkan untuk dinyatakan sebagai pemenang.
Melalui sistem pemilu tersebut, pemilih memiliki hak memberikan tiga suara istimewa kepada calon pilihan mereka.
Apabila tidak ada calon yang meraih 50% suara pada penghitungan awal, maka penghitungan kedua akan menentukan pemenang antara dua kandidat teratas berdasarkan suara preferensial yang diberikan.
Menurut laporan komisi pemilihan, sekitar 75% dari total 17 juta pemilih yang memenuhi syarat telah menggunakan hak suara mereka.
Namun, Dissanayake menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor karena janji kampanyenya untuk menurunkan pajak, yang berpotensi mengganggu target fiskal IMF dan pembayaran utang sebesar US$25 miliar.
Meski begitu, saat berkampanye, ia menyatakan akan berkonsultasi dengan IMF sebelum membuat keputusan dan menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan pembayaran utang.
Marxisme sendiri merupakan paham yang didasarkan pada pemikiran filsuf asal Jerman, Karl Marx (1818-1883), yang mencerminkan kritik terhadap kapitalisme.
Pemilihan ini menjadi yang pertama sejak Sri Lanka mengalami krisis ekonomi pada tahun 2022 akibat kekurangan devisa yang parah. Kondisi ini membuat negara tersebut kesulitan membayar impor kebutuhan pokok seperti bahan bakar, obat-obatan, dan gas untuk memasak.
Situasi tersebut memicu protes yang memaksa Presiden Gotabaya Rajapaksa saat itu untuk melarikan diri dan akhirnya mengundurkan diri. ***
Sumber: CNBC Indonesia
