Harga Emas Antam Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

Ekonomi, headline688 Dilihat

JAKARTA – Pada Senin (16/9/2024), harga emas batangan dari PT Aneka Tambang Tbk (Antam) di butik Logam Mulia Graha Dipta, Pulo Gadung, tercatat mencapai Rp1.443.000 per gram, meningkat Rp4.000 per gram dibandingkan sebelumnya.

Angka ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah. Di sisi lain, harga buyback atau harga pembelian kembali emas berada pada posisi Rp1.289.000 per gram, juga naik Rp4.000.

Sepanjang pekan lalu, harga emas dunia menunjukkan performa yang positif, mencetak rekor tertinggi baru sebanyak dua kali. Kenaikan ini didorong oleh prospek pemangkasan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) yang semakin jelas, menyusul data ketenagakerjaan yang tetap stabil serta inflasi yang terus mengalami penurunan.

Pada Jumat (13/9/2024), harga emas dunia kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH), setelah sebelumnya juga mencetak ATH pada Kamis lalu di level US$ 2.511,44 per ons.

Kenaikan harga emas ini dipengaruhi oleh semakin besarnya kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan kestabilan, serta inflasi yang terus melambat.

Berdasarkan data dari Departemen Tenaga Kerja AS, klaim awal tunjangan pengangguran mingguan untuk pekan yang berakhir pada 7 September 2024 naik sebesar 2.000 menjadi 230.000 klaim, yang telah disesuaikan secara musiman.

Sementara itu, dari sisi inflasi, Indeks Harga Produsen (PPI) untuk permintaan akhir pada Agustus naik 0,2%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebesar 0,1%. Angka inti, yang tidak mencakup harga makanan dan energi yang cenderung fluktuatif, juga naik 0,3%, melebihi perkiraan sebesar 0,2%.

Namun, data inflasi konsumen atau Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk periode Agustus yang dirilis pada Rabu lalu menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 2,5%, sedikit lebih baik dari ekspektasi sebesar 2,6%, dan jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 2,9% pada bulan sebelumnya.

Tren inflasi yang terus menurun ini memberikan sinyal positif bagi pasar, terutama setelah pekan lalu kondisi pasar tenaga kerja terlihat kurang menggembirakan. Harapan terhadap kemungkinan terjadinya resesi pun sedikit mereda.

Mengutip Reuters, Peter Tuz, presiden Chase Investment Counsel di Charlottesville, Virginia, mengatakan bahwa data yang dirilis pekan ini cukup memberikan kepercayaan bagi The Fed untuk bersikap lebih hati-hati.

“Data minggu ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar kita tidak akan mengalami resesi besar. Inflasi terlihat melambat, baik dari sisi konsumen maupun produsen,” ujar Peter. ***

 

Sumber: CNBC Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *