AMERIKA SERIKAT – Gelombang serangan terus menghantam Amerika Serikat (AS), terutama menjelang pemilihan presiden (Pilpres). Berdasarkan data dari Check Point Research, terjadi peningkatan serangan siber terhadap infrastruktur penting AS sebesar 70% dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut laporan Reuters pada Kamis (12/9/2024), infrastruktur ketenagalistrikan di AS kini semakin rentan akibat digitalisasi yang pesat.
Serangan siber semakin mudah dilakukan karena banyak infrastruktur yang masih menggunakan perangkat lunak yang sudah usang, ungkap Douglas McKee dari perusahaan keamanan siber SonicWall.
Meskipun belum ada serangan yang berhasil sepenuhnya melumpuhkan infrastruktur AS, para pakar memperingatkan bahwa ancaman ini dapat meningkat dan mengganggu layanan penting, yang pada akhirnya bisa menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan.
Rata-rata, terjadi 1.162 serangan siber sepanjang Agustus tahun ini, dibandingkan dengan 689 serangan pada periode yang sama tahun 2023.
Sektor energi menjadi salah satu yang paling rentan terhadap serangan. Pada Mei 2021, Colonial Pipeline, operator bahan bakar terbesar di AS, terpaksa menghentikan operasinya akibat serangan siber besar-besaran.
Belakangan ini, perusahaan energi Halliburton juga mengonfirmasi bahwa sistem mereka telah diakses oleh pihak ketiga, yang mengakibatkan hilangnya beberapa data.
Perusahaan besar lainnya juga menjadi korban serangan ransomware dalam beberapa tahun terakhir, termasuk UnitedHealth Group yang mengalami serangan besar pada Februari lalu.
Berdasarkan laporan IBM pada tahun 2022, kebocoran data di sektor energi diperkirakan menyebabkan kerugian rata-rata sebesar US$ 4,72 juta.
Di tahun-tahun politik, serangan siber cenderung meningkat. Menurut Nataliia Zdrok, Analis Senior di Binary Defense, “Menjelang pemilu AS, kami memprediksi adanya lonjakan serangan siber terhadap infrastruktur penting, termasuk sektor energi dan komunikasi.” ***
Sumber: CNBC Indonesia
