Negara Tetangga Indonesia, Laos Terjebak Utang China

JAKARTA – Laos, tetangga dekat Indonesia, dilaporkan sedang terjebak dalam utang besar kepada China. Proyek-proyek megah yang dibiayai oleh Beijing menjadi penyebab utama masalah ini.

Laos sedang mengembangkan bendungan hidrolik di Sungai Mekong dan infrastruktur energi dengan tujuan menjadi “baterai” Asia Tenggara melalui pembiayaan Belt and Road Initiative (BRI).

Namun, kedua proyek tersebut belum memberikan hasil ekonomi yang diharapkan dan malah menambah beban utang negara.

Mengutip DW, data ekonomi terbaru menunjukkan Laos memiliki utang sebesar US$13,8 miliar atau sekitar Rp 224 triliun pada akhir tahun 2023. Angka ini lebih dari 100% PDB negara kecil tersebut.

Pinjaman dari China mencapai setengah dari utang luar negeri Laos, yang berjumlah US$10,5 miliar. Menurut Bloomberg, China adalah kreditor terbesar Laos.

“Bukan hanya utang ke China, sebenarnya Laos memiliki jumlah utang yang sangat besar,” kata Zachary Abuza, seorang profesor di National War College di Washington yang berfokus pada Asia Tenggara, pada Senin (29/7/2024).

“Utang itu sendiri tidak buruk jika digunakan untuk keperluan produktif, tetapi utang Laos tidak demikian. Mereka memiliki kelebihan kapasitas dalam pembangkit listrik tenaga air,” tambahnya.

“Jalur kereta api selama ini menjadi proyek yang sia-sia, meskipun sekarang dengan adanya koneksi ke Bangkok, seharusnya akan memberikan keuntungan yang lebih besar,” jelasnya lagi.

“Semua itu telah menyebabkan penurunan nilai mata uangnya sebesar 30% pada tahun 2023 dan inflasi yang melonjak, yang sekarang menjadi yang tertinggi kedua di kawasan tersebut,” kata Abuza.

Laos memang memiliki hubungan dekat dengan China, dengan ideologi politik yang serupa. Pemerintah Laos dijalankan sebagai negara Komunis satu partai yang dipimpin oleh Partai Revolusioner Rakyat Laos.

Perlu diketahui, Beijing telah dikritik oleh para ahli karena apa yang disebut sebagai “diplomasi perangkap utang”, di mana proyek-proyek besar di negara-negara berkembang dibiayai oleh China, yang akhirnya membuat negara-negara tersebut bergantung secara ekonomi.

Meski begitu, Kementerian Luar Negeri China sering menyebut klaim semacam itu sebagai narasi yang dipimpin Amerika Serikat untuk menghalangi tujuan Beijing dalam bekerja sama dengan negara-negara berkembang.

Laos sendiri sedang mengalami kesulitan ekonomi. Secara keseluruhan, ekonomi Laos telah berjuang sejak pandemi COVID-19, dengan inflasi yang meningkat, nilai tukar yang lemah terhadap dolar AS, dan pertumbuhan PDB yang lamban.

Pada bulan Juni, inflasi di Laos mencapai lebih dari 26%, sedikit naik dari 25,7% pada bulan Mei.

Bank Dunia mengatakan PDB Laos tumbuh sebesar 3,7% pada tahun 2023 dengan perkiraan 4% pada tahun 2024. Sebelum pandemi, pertumbuhannya adalah 5,5%. ***

 

Sumber: CNBC Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *