Negara Ini Hampir Bangkrut, China dan Prancis Jadi Penyelamat

JAKARTA – Zambia, sebuah negara di Afrika, hampir memenuhi syarat untuk kembali mendapatkan pembiayaan asing setelah proses negosiasi restrukturisasi utangnya mendekati titik akhir. Langkah ini diambil di tengah situasi negara tersebut yang nyaris mengalami kebangkrutan.

Mengutip laporan AFP, Senin (16/12/2024), Prancis bersama China, yang memimpin komite kreditor sektor publik untuk Zambia, menjadi negara pertama yang menandatangani perjanjian restrukturisasi utang bilateral di bawah kerangka kerja bersama G20 awal bulan ini.

Kerangka kerja bersama tersebut merupakan inisiatif G20 yang dirancang untuk mengatur restrukturisasi utang negara-negara berpenghasilan rendah secara lebih terorganisasi.

“Prancis hanya memiliki sekitar US$100 juta (Rp1,6 triliun) dari total US$6,3 miliar (Rp101 triliun) utang sektor resmi yang akan direstrukturisasi. Namun, perjanjian ini menjadi langkah pembuka bagi semua negara dan kreditor lainnya,” ujar seorang diplomat Zambia.

Zambia, yang merupakan produsen tembaga terbesar di Afrika dengan populasi hampir 20 juta jiwa, menjadi negara pertama yang mengalami gagal bayar utang selama pandemi Covid-19. Pada tahun 2020, Zambia gagal memenuhi pembayaran utang luar negeri sebesar US$18,6 miliar (Rp299 triliun).

Pada awal tahun 2024, Zambia mencapai kesepakatan untuk merestrukturisasi lebih dari US$3,5 miliar (Rp56 triliun) utang sektor swasta melalui kerangka kerja G20.

Proses restrukturisasi utang ini melibatkan Klub Paris—kelompok kreditor resmi dari negara-negara Barat—dan kreditor G20 lainnya, termasuk China. Meski demikian, perjalanan menuju restrukturisasi tersebut tidak selalu berjalan mulus. Namun, sumber dari Klub Paris menyebutkan bahwa diskusi dengan Bank Ekspor-Impor China tahun ini berlangsung lebih konstruktif.

“Ini membuktikan bahwa pendekatan multilateral dapat bekerja dengan baik, kredibel, efisien, dan adil,” ungkap sumber diplomatik.

Pengalaman Zambia dalam proses restrukturisasi ini menjadi pembelajaran bagi penanganan kasus serupa di negara-negara lain seperti Ghana dan Ethiopia, yang juga sedang menghadapi situasi utang yang sama.

Zambia kini dianggap sebagai uji coba keberhasilan kerangka kerja bersama G20, terutama di tengah kekhawatiran yang meningkat terhadap masalah utang di negara-negara berpenghasilan rendah. (*)

 

Sumber: CNBC Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *