Dolar AS Sentuh Rp 16.200, Ekonom Ungkap Kondisi Terburuk

Ekonomi, headline80 Dilihat

JAKARTA – Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) telah mencapai level Rp 16.000, yang merupakan pertama kalinya sejak 2020.

Menurut data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 1,33% menjadi Rp 16.050 per dolar AS. Rupiah tertekan di tengah lonjakan indeks dolar AS dalam empat perdagangan terakhir, mencapai 106,205 pada Senin (15/4/2024).

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Pengamat perbankan dan praktisi sistem pembayaran Arianto Muditomo menyatakan pelemahan ini disebabkan oleh kombinasi faktor geopolitik dan domestik.

“Kebijakan moneter AS, perlambatan ekonomi China, dan ketidakpastian domestik memperparah kondisi,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (16/4/2024).

Arianto menjelaskan ada berbagai katalis negatif dalam tren pelemahan rupiah ini, termasuk kenaikan suku bunga The Fed, pelambatan ekonomi global, dan ketidakpastian domestik.

Namun, terdapat juga katalis positif. Antara lain, kenaikan harga komoditas ekspor utama Indonesia (minyak, batubara, CPO), potensi aliran modal asing yang masuk, dan intervensi dari pemerintah serta Bank Indonesia (BI).

“Dalam jangka pendek hingga menengah, jika katalis negatif lebih dominan, rupiah bisa mencapai Rp 16.300 hingga Rp 16.500,” ujar Arianto.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Segara Institute, Piter Abdullah, menilai dampak pelemahan rupiah sangat bergantung pada respons kebijakan otoritas dan pemerintah Indonesia.

Terkait dampak pelemahan rupiah, ia menjelaskan hal ini akan memengaruhi ekspor dan impor Indonesia. Piter menyatakan pelemahan rupiah akan menyebabkan kenaikan harga barang impor.

“Terjadi inflasi impor. Pertumbuhan impor akan tertahan,” jelasnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (16/4/2024).

Pada sisi ekspor, pelemahan rupiah membuat harga barang dari Indonesia lebih kompetitif di pasar global. Pertumbuhan ekspor diperkirakan meningkat, terutama dengan perkiraan kenaikan harga minyak.

Ia juga menambahkan bahwa pertumbuhan ekspor akan terjadi pada batubara dan CPO. “Kenaikan ekspor dan penurunan impor akan menyebabkan surplus neraca perdagangan,” kata Piter.

Di sisi arus modal, lanjutnya, pelemahan rupiah meningkatkan risiko nilai tukar. Piter menyebutkan bahwa investor asing mungkin menahan investasi mereka di Indonesia.

“Atau bahkan mungkin ada dorongan capital outflows jika pelemahan rupiah berlanjut,” ujarnya.

Sementara itu, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Moch Amin Nurdin berpendapat bahwa jika sentimen negatif berlanjut, dolar bisa menembus hingga Rp 18.000. (*)

 

Sumber: CNBC Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *